Thursday, 13 October 2016

Alangkah Besarnya Dosa Fitnah (2-Habis)

“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah” (QS. Al Qalam:11)
FITNAH adalah salah satu penyakit lisan yang sering terdengar di telinga kita. Arti fitnah secara sempit adalah memberikan tuduhan palsu dan tidak berdasar yang akhirnya membuat malu orang yang terkena fitnah.
Dalam terminologi syar’i, fitnah disebut dengan An Namimah.Yaitu menyebarkan-nyebarkan berita di antara manusia untuk memburuk-burukan seseorang dan menanamkan permusuhan, kebencian dan kedengkian.
Penyebar fitnah sangat pantas diancam dengan berbagai macam ancaman, di antaranya:
1. Diberi gelar ‘Manusia Terburuk’
Karena sering memburuk-burukan orang lain, maka penyebar fitnah diberi gelar oleh Rasulullah saw dengan seburuk-buruk manusia. Beliau bersabda, “Inginkah kalian aku beritahukan mansia terburuk diantara kalian?” Para sahabat menjawab: Ya, Beliau SAW bersabda, “Yaitu orang-orang yang ke sana ke mari menyebar fitnah, yang memecah belah di antara orang yang saling mencintai dan meniupkan aib kepada orang-orang yang tidak berdosa/bersalah”. (HR Ahmad).

2. Disiksa di alam kubur
Suatu ketika Rasulullah SAW melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda “Sesungguhnya keduanya saat ini sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena melakukan dosa besar. Adapun salah seorang dari keduanya, dulunya berjalan (kesana kemari) menghambur fitnah. Sedangkan yang satunya tidak bersih selesai kencing.” (HR. Bukhari dan muslim).
Bagi kebanyakan orang, kedua perbuatan tersebut dianggap sepele. Tapi, ternyata dapat membuat pelakunya sengsara di alam kubur.
3. Tidak akan masuk surga
Sungguh merana dan sengsara sekali orang yang suka menyebar fitnah, gosip dan isu. Sebab, ia diharamkan menikmati berbagai macam kenikmatan abadi di surga. Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga Nammaam (orang yang suka menyebar fitnah)” (HR Bukhari dan Muslim).
Keluarga Penyebar Fitnah
Ayat di atas, sesungguhnya juga memberikan pemahaman kepada kita agar mewaspadai, jangan sampai ada keluarga kita yang hobinya menyebar fitnah. Sebab, Al-Qur’an telah menyampaikan kepada kita prototipe keluarga penyebar fitnah, seperti yang terjadi pada istrinya nabi Nuh dan Nabi Luth As. Juga secara spesifik  disebut oleh Al-Qur’an yaitu istri Abu Lahab.  Kesemuanya dibalas oleh Allah dengan neraka. Sebagaimana Firman Allah SWT, “Dan (begitu pula) Istrinya, pembawa kayu bakar” (QS. Al-Lahab: 4)
Dalam bahasa Arab “pembawa kayu bakar” adalah mazaj  (kiasan) bagi penyebar fitnah. Istri Abu Lahab dijuluki seperti itu, karena ia selalu menyebar fitnah kesana-kemari untuk menjelek-jelekan Rasulullah dan kaum muslimin.
Karenanya, mari kita bina dan kondisikan keluarga kita menjadi orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat Allah dan selalu membersihkan hati sehingga terhindar dari sifat-sifat tercela seperti fitnah. [fha/islampos/ummi/AkhmadKhusyairil]

Alangkah Besarnya Dosa Fitnah (1)


Dalam terminologi syar’i, fitnah disebut dengan An Namimah.Yaitu menyebarkan-nyebarkan berita di antara manusia untuk memburuk-burukan seseorang dan menanamkan permusuhan, kebencian dan kedengkian.


“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghamburkan fitnah” (Q.S Al Qalam: 11)
FITNAH adalah salah satu penyakit lisan yang sering terdengar di telinga kita. Arti fitnah secara sempit adalah memberikan tuduhan palsu dan tidak berdasar yang akhirnya membuat malu orang yang terkena fitnah.
Dalam terminologi syar’i, fitnah disebut dengan An Namimah.Yaitu menyebarkan-nyebarkan berita di antara manusia untuk memburuk-burukan seseorang dan menanamkan permusuhan, kebencian dan kedengkian.
Asbab Nuzul Ayat
Ayat diatas merupakan petikan sifat orang yang memusuhi da’wah Rasulullah SAW dan para sahabatnya, yang dilarang oleh Allah swt untuk diikuti. Lebih lengkapnya, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak” (Q.S Qalam: 10-14 ).

Para mufassir berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dalam ayat tersebut. Ada yang berpendapat, bahwa orang tersebut adalah Al Akhnas bin Syariq Ats Tsaqafi, rekan Bani Zahrah. Pendapat lain mengatakan,ayat diatas turun untuk Al Aswad bin Abd Yaghuts Az Zuhri. Tapi yang mashyur, bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah Al Walid bin Al Mughirah (Lihat:tafsir Ibnu Jarir XII/184 dan 186, Tafsir Ibnu Katsir V/124-125 dan Tafsir Al Munir XXIX/50-51 ).
Tidak terlalu penting bagi kita persisnya siapa yang dimaksud ayat diatas.Yang penting, bahwa mereka bertiga, dan terutama Al Wahid bin Al Mughirah, adalah orang-orang yang berada di garda terdepan dalam menyebar fitnah. Mereka memiliki track record terburuk dalam mebuat makar terhadap Rasulullah SAW dan orang-orang yang beriman. Mereka selalu menghadang arus da’wah dan menghalangi semua program dan aktivitas di jalan Allah. Dan mengingat relevansi Al-Quran untuk semua zaman dan makan (tempat), maka ancaman bagi mereka tentu juga berlaku siapa saja yang memusuhi dan memerangi da’wah dan aktivis da’wah dimana saja dan kapan saja.
Ancaman bagi Penyebar Fitnah
Sesungguhnya fitnah adalah perbuatan yang sangat kejam. Wal fitnatu asyaddu mina’l qatl, dan fitnah itu lebih kejam dan lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Demikian penegasan Allah SWT dalam QS Al Baqarah (2) ayat 191.

Sebab, pengaruh fitnah sangat besar dan dampaknya sangat luas. Jika gelombang tsunami memporakporandakan satu wilayah provinsi. Maka, fitnah dapat membuat gempar seluruh pelosok negeri. Bahkan dunia pun bisa digoyang dengan fitnah, jika melihat kecanggihan teknologi saat ini. [Sumber: Ummi/Penulis: Ahmad Kusyairil Suhail, MA

Tuesday, 27 September 2016

Hingga Kiamat, Inilah Orang yang Dimasukkan Gancu pada Mulutnya Hingga Ke-2 Pipinya Robek

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala itu Maha Pemurah, Maha Pengasih dan juga Maha Penyayang. Sifat inilah yang melekat pada-Nya. Meski begitu, ketika waktu telah habis, atau masa hidup seseorang di dunia telah usai, dan ia masih dalam keadaan berdosa, maka sifat Allah itu tidak berlaku baginya. Sifat itu hanya berlaku bagi orang-orang yang masih hidup di dunia, yang masih memiliki kesempatan untuk bertaubat dari kesalahan yang diperbuatnya.

Tibalah seseorang akan berada di masa penantian, yakni alam kubur. Dari situlah, Allah tunjukkan kebenaran yang telah disampaikan-Nya, melalui para utusan-Nya. Seseorang yang mendustakan kebenaran itu di dunia, akan merasakan penyesalan yang mendalam. Sebab, ia kini merasakan siksa yang memang amat pedih.
Siksaan Allah itu macam-macam dan sangat menyakitkan. Sakitnya akan terus dirasakan hingga kiamat datang. Macam-macam siksaan itu ada sesuai dengan kesalahan apa yang diperbuatnya di dunia.

Salah satunya ada orang yang mengalami siksaan berupa gancu (galah yang berpengait pada ujungnya/ pengait) yang dimasukkan ke dalam mulutnya hingga kedua pipinya robek. Siapakah yang memperoleh siksaan itu?
Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ menceritakan mimpi beliau, “Tadi malam saya melihat ada dua orang yang mendatangiku, lalu mereka memegang lenganku, kemudian mengajakku keluar ke tanah lapang. Kemudian kami melewati dua orang, yang satu berdiri di dekat kepala temannya dengan membawa gancu besi. Gancu itu dimasukkan ke dalam mulutnya, kemudian ditarik hingga robek pipinya sampai ke tengkuk. Dia tarik, lalu dia masukkan lagi ke dalam mulut dan dia tarik hingga robek pipi sisi satunya. Kemudian bekas pipi robek tadi kembali pulih dan dirobek lagi, dan begitu seterusnya.
Di akhir hadis, Rasulullah ﷺ dijelaskan Malaikat, apa maksud kejadian yang beliau lihat, ‘Orang pertama yang kamu lihat, itu adalah seorang pendusta. Dia membuat kedustaan dan dia sebarkan ke seluruh penjuru dunia. Dia dihukum seperti itu sampai kiamat, kemudian Allah sikapi sesuai yang Dia kehendaki’,” (HR. Ahmad 20165 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Sungguh berat siksaan bagi orang yang selalu berdusta di dunia. Itulah sebabnya, Rasulullah ﷺ selalu mengingatkan kita untuk tidak berdusta. Terutama dalam memberikan informasi. Mengingat, kini banyanya pemberitaan yang ternyata setelah ditelusuri itu adalah berita hoax/ bohong.
Sungguh, orang yang selalu melakukan itu, dan merugikan banyak orang akibat pemberitaannya yang tidak benar, maka ia akan merasakan kerugian yang lebih menyakitkan. Jika di dunia tidak ia rasakan, maka siap-siaplah terima balasan terdahsyat di akhirat. Wallahu ‘alam. []

Wednesday, 21 September 2016

7 Perbuatan Ini Dilaknat Malaikat

malam yang gelap
DI dalam hidupnya, manusia senantiasa berdampingan dengan makhluk Allah yang lainnya, di antaranya adalah malaikat.
Ia memiliki spesifikasi yang wajib diimani oleh kaum muslimin sebagai makhluk Allah yang paling taat dan tidak memiliki nafsu, ia memiliki tugas khusus di alam semesta ini maupun akhirat, seperti menyampaikan rezeki kepada makhluk lainnya, mencatat amal perbuatan kita, mencabut nyawa bertanya di alam barzah, dan lain sebagainya.
Namun, Malaikat pun memiliki kehendak yang itu atas perintah Allah SWT. Malaikat dalam menjalankan tugasnya akan memilih-milih perbuatan yang baik menurut Allah.
Begitulah Allah menyuruh kepada Malaikat barangsiapa yang tidak mematuhi perintah Allah maka akibatnya akan mendapatkan laknat Allah, melalui Malaikat.
Inilah perbuatan-perbuatan yang pelakunya dilaknat oleh para Malaikat:

1. Melaknat orang kafir

Allah SWT berfirman, “Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar Rasul, dan keterangan – keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu balasannya adalah bahwasannya laknat Allah ditimpakan kepada mereka (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh,” (Ali-Imran: 86-88)
“Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya,”(al-Baqarah: 161)
2. Orang yang menghalang-halangi pelaksanaan syari’at

Di dalam kitab sunan an-Nasa’i, Abu Daud dan Ibnu Majah diriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari ibnu abbas r.a bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Barangsiapa membunuh secara sengaja maka dihukum dengan pidana qishas, barangsiapa yang menghalang-halangi antara dia dengan air (yang membunuh dengan terbunuh) maka ia mendapat laknat Allah SWT, Para malaikat dan seluruh manusia,” (HR. Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Orang yang menghang-halangi hokum Allah SWT dalam membunuh si pembunuh secara sengaja karena kekuasaan dan hartanya.

3.Yang melindungi orang yang mengada-ada ajaran agama

Orang-orang yang dilaknat para Malaikat, sebagaimana juga dilaknat oleh Allah SWT, adalah mereka-mereka yang mengada-ada ajaran agama Allah dengan maksud untuk keluar dari hukum-hukum-Nya dan memusuhi apa-apa yang telah disyari’atkan-Nya atau yang melindungi orang yang mengada-ada.

4. Laknat mereka kepada orang yang mencaci maki sahabat Rasulullah SAW

“Barangsiapa yang mencaci maki dan mengumpat sahabat-sahabatku, maka ia mendapatkan laknat Allah SWT, para Malaikat dan seluruh manusia”.

5. Para malaikat melaknat wanita yang tidak memenuhi ajakan suaminya

“Jika seorang istri meninggalkan tempat tidur suaminya, maka ia dilaknat oleh para Malaikat hingga ia kembali,”(HR. Bukhari)

6. Para malaikat melaknat wanita yang keluar rumah tanpa seizing suaminya

“Sesungguhnya hak suami terhadap istrinya yaitu jika suami menghendaki dirinya, sekalipun dia berada di atas kendaraan, ia tidak mencegah dirinya untuk datang, dan hak suami atas istrinya yaitu, istrinya tidak boleh puasa sunnah tanpa izin suaminya, jika terus melakukannya, ia hanya mendapatkan lapar dan haus dan tidak diterima puasa yang dilakukannya itu, dan tidak boleh keluar rumah tanpa izinnya, jika ia terus keluar, maka malaikat langit dan malaikat rahmat serta malaikat adzab akan mengutuknya sampai ia pulang.”

7. Para Malaikat melaknat orang yang mengacungkan besi kepada saudaranya

Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.
“Barangsiapa yang mengacungkan besi kepada suadaranya, maka para malaikat melaknatnya. Sekali pun saudranya itu saudara sebapak dna seibu (sekandung),” (HR. Muslim)
Pelaknatan para malaikat dalam hadits, menunjukkan pada pengharaman perbuatan ini, karena telah menimbulkan rasa takut pada diri saudaranya. Karena setan kadang-kadang menyesatkannya sehingga ia betul-betul membunuh saudaranya. Khususnya, jika senjata yang digunakan untuk mengacung-acung tersebut adalah senjata modern yang kadang-kadang bisa lepas hanya dengan satu kesalahan kecil, atau rabaan lembut yang tidak disengaja.[]
 Sumber: Berkenalan Dengan Malaikat/ Abdul Hamid Kisyik/ Gema Insani

Saturday, 10 September 2016

Semakin Rajin Berdzikir, Orang-orang Ini Malah Semakin Dekat Dengan Setan


Dzikir merupakan ibadah yang bisa menenangkan hati. Dzikir bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, Tanpa batas. Bahkan dianjurkan untuk dilakukan sesering mungkin. Semakin banyak waktu yang digunakan dan jumlah bilangan dzikir, maka seorang hamba akan semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Semakin Rajin Berdzikir, Orang-orang Ini Malah Semakin Dekat Dengan Setan


Namun, ada satu kejadian yang dialami salah satu murid Imam al-Ghazali. Pada gurunya, Sang murid mengaku. Semakin rajin berdzikir, mengapa ada orang yang justru semakin dekat dengan setan terlaknat?

“Syaikh,” tuturnya, “bukankah dzikir bisa membuat seorang beriman lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan setan akan berlari darinya?”

“Benar,” jawab Imam al-Ghazali.

“Namun kenapa ada orang yang rajin berdzikir justru malah semakin dekat dengan setan?” lanjut sang murid.

Laki-laki yang diberi gelar Hujjatul Islam ini ini pun bertutur, “Bagaimana pendapatmu, Jika ada orang yang mengusir anjing, namun dia masih menyimpan tulang dan berbagai makanan kesukaan anjing di sekitarnya?”

“Tentu, anjing itu akan kembali datang setelah diusir.” jawab sang murid.

Imam al-Ghazali menjelaskan, demikian juga dengan orang-orang yang rajin berdzikir tapi masih menyimpan berbagai penyakit hati dalam dirinya. Setan akan terus datang dan mendekat bahkan bersahabat dengannya.

Ialah kesombongan, iri dengki, syirik, kasar, dan berbagai penyakit hati lainnya. Ketika penyakit-penyakit itu menghinggapi diri seorang hamba, maka setan terlaknat akan senantiasa datang, mengakrabkan diri, kemudian menjadi sahabat karibnya.

Inilah esensi dari dzikir yang kerap dilupakan oleh mayoritas kaum Muslimin. Mereka hanya fokus pada dzikir jahr dan melupakan dzikir sirr. Mereka lebih suka dzikir ritual dibanding dzikir dengan perbuatan. Mereka hanya berhenti pada dzikir berjumlah, tapi melupakan akhlak yang seharusnya menjadi bukti pertama dari bagusnya dzikir yang dilakukan.

Maka kita sering saksikan, banyak orang yang rajin berdzikir, namun tetap sibuk dengan hal yang sia-sia. Banyak pula orang yang ikut berbagai majelis dzikir, tapi kelakuan dan kehidupannya justru semakin jauh dari nilai-nilai Ilahi.

Meskipun, mereka masih lebih baik daripada orang buruk yang tidak berdzikir. Sebagaimana dinasihatkan oleh Imam Ibnu Athailah as-Sakandari, “Orang yang lalai saat berdzikir lebih baik daripada orang lalai yang tidak berdzikir.”

Wallahu a’lam

Friday, 9 September 2016

Keutamaan Masjid

Seseorang yang pergi ke masjid dengan maksud untuk beribadah, baik shalat, I’tikaf, membaca Al Qur’an, dan lain-lainnya, kemudian dihalang-halangi dan dilarang untuk melakukan itu, maka orang yang menghalang-halangi itu termasuk orang yang zalim dan paling aniaya. Mengapa? Beribadah kepada Allah SWT. merupakan bentuk pengabdian kepada seorang hamba kepada penciptanya. Masjid itu sendiri adalah tempat untuk beribadah kepada-Nya. Bagaimana mungkin seorang mahluk, yang diciptakan oleh-Nya, melarang seseorang untuk beribadah kepada Allah Swt. di rumah-Nya?
Orang yang termasuk aniaya dalam ayat ini adalah orang yang ingin menghancurkan rumah Allah, yaitu agar tidak ada masjid di muka bumi. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pasukan gajah atau orang Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis. Padahal, tidak menghancurkannya. Masjid adalah tempat perlindungan. Mereka pun tidak layak massuk kedalam masjid kecuali degan rasa takut kepada Allah. Perbuatan orang-orang aniaya ini sangat tercela sehingga Allah Swt. pun menurunkan azab, sebagaimana yang menimpa Abrahah dan kaumnya. Di akhirat pun, mereka mendapatkan siksa yang sangat pedih.
Ayat ini menjelaskan tentang shalatnya Nabi Muhammad saw. untuk pertama kali, yaitu menghadap Baitu Maqdis selama 16 bulan, padahal ketika itu beliau berada di Mekah. Setelah itu, arah kiblat berubah dengan menghadap Ka’bah. Ibadah yang telah dilakukan oleh Nabi saw dan sahabat ketika menghadap Baitul Maqdis, tidak sia-sia di hadapan Allah Ta’ala.
Keutamaan Masjid
Keutamaan Masjid
Ayat ini pun menjelaskan tentang keringanan bagi orang yang telah berada dalam perjalanan, seperti menggunakan pesawat, mobil, kereta api, dan sebagainya. Ke mana saja arah kendaraan melaju, seseorang dapat mendirikan sholat sesuai dengan arah kendaraan. (Tafsir Taisir Al Karim Ar Rahman, Abdurrahman As Sa’di dan Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim, Ibnu Katsir)
Khasanah Pengetahuan
Dalam Al Qur’an, kata “masjid” disebutkan sebanyak 28 kali. Masjid itu sendiri berasal dari kata sajada yasjudu yang artinya bersujud, sedangkan masjid adalah tempat bersujud. Dengan kata lain, masjid adalah tempat beribadahnya umat Islam. Ada arah yang ditentukan ketika beribadah di dalamnya, yaitu menghadap Ka’bah yang berada di kota Mekah, Saudi Arabia. Menghadap Ka’bah ini di sebut pula menghadap kiblat. Salah satu hikmahnya adalah menjadikan umat Islam satu arah, satu hati, dan satu tujuan, yaitu menghadap kepada Allah Swt.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sejumlah ilmuan yang menemukan fakta bahwa Ka’bah adalah pusat bumi karena posisinya terletak di “titik nol” dari Kutub Utara dan Kutub Selatan. Dengan posisinya ini, orang yang tinggal di sekitarnya mempunyai kesehatan yang lebih baik daripada orang yang di daerah lain karena tidak banyak dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Tempat ini disebut pula “Zero Magnitesm Area” atau daerah di mana arah jarum kompas menunjukakan angka nol. Hal ini menjadi bukti bahwa Ka’bah berada di daerah dengan pengaruh gravitasi minimal.
Masjid memiliki beberapa fungsi, selain dari tempat shalat kaum muslimin, antara lain sebagai tempat bermusyawarah, memperdalam ilmu agama, tempat bersatunya umat Islam dari berbagai status, termasuk tempat menyusun strategi perang yang dilakukan Rasulullah saw. dan sahabat dahulu.
Dari seluruh masjid yang ada di muka bumi, ada tiga masjid yang mempunyai keistimewaan khusus, yaitu Masjidilharam di Mekah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidilaqsa di Palestina. Umat Islam sangat dianjurkan untuk berziarah ke tiga masjid tersebut.
Adapun hal yang tidak boleh dilakukan terkait masjid adalah: tidak boleh membangun masjid di atas pekuburan dan tidak boleh menjadikan kuburan orang saleh sebagai tempat ibadah.
Panduan Amal
Cara menghormati masjid, antara lain:
  1. Memakai pakaian yang bersih, terutama ketika akan melaksanakan shalat di masjid;
  2. Suci dari hadas dan selalu mempunyai wudu;
  3. Menjaga kebersihan dalam atau luar ruangan masjid (HR Muslim)
  4. Tidak membuat kegaduhan selama berada di dalamnya, baik berupa teriakan atau hal-hal yang bersifat duniawi lainnya;
  5. Shalat sunnat dua rakaat tahiyatul masjid ketika tiba di masjid;
  6. Berniat untuk I’tikaf selama berada di dalam masjid;
  7. Memperbanyak bacaan Al Qur’an;
  8. Selalu berjamaah shalat lima waktu;
  9. Tidak memakan makanan yang mengeluarkan aroma bau sehingga orang lain merasa tidak nyaman ketika beribadah. (HR Muslim)

Saturday, 27 August 2016

Begini Sifat Seorang Munafik di dalam Shalatnya, Adakah Dalam Diri Saya?

Saudaraku seiman…

Sebagaimana diketahui bahwa kaum munafik diancam oleh Allah dengan mendapat siksa di dalam Neraka Jahannam!


{وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ} [التوبة: 68]
Artinya: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At Taubah: 68).


Salah satu penyebabnya adalah sikap mereka yang sangat buruk di dalam perihal shalat.

Saudaraku seiman…
Di bawah ini sifat buruk kaum munafik terhadap shalatnya:

1.    Kaum munafik merasa berat dalam mengerjakan shalat.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ » .
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat yang paling berat atas kaum munafik dari shalat Shubuh dan Isya’.” (HR. Bukhari dan Muslim).


2.    Kaum munafik tidak menghadiri shalat berjamaah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ.
Artinya: “Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh aku telah melihat kami (yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum), tidak ada yang absen darinya (shalat berjamaah), kecuali seorang munafik yang dikenal kemunafikannya.” HR. Muslim.

عَنْ أَبِى عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمَومَةٍ لَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لاَ يَشْهَدُهُمَا مُنَافِقٌ ». يَعْنِى صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ. قَالَ أَبُو بِشْرٍ يَعْنِى لاَ يُوَاظِبُ عَلَيْهِمَا.
Artinya: “Abu Umair bin Anas meriwayatkan dari pamannya yang mempunyai pershahabatan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam, ia meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak menghadiri kedua (shalat shubuh dan isya secara berjamaah)nya seoranvg munafik.” Maksudnya adalah shalat shubuh dan shalat Isya’, berkata Abu Bisyr: maksudnya adalah tidak selalu menghadiri kedua shalat itu.

3.    Kaum munafik mengakhirkan shalat ashar sehingga matahari mau terbenam

4.    Kaum munafik shalatnya terlalu cepat, tidak thuma’ninah seperti burung memakan makanannya

5.    Kaum munafik tidak mengingat Allah di dalam shalatnya kecuali sedikit
عَنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « تِلْكَ صَلاَةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَىِ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لاَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً ».
Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah shalatnya seorang munafik, ia duduk menunggu matahari, sehingga jika matahari tersebut terletak antar dua tanduk setan (mau terbenam), maka ia bangun  (shalat) ia shalat dengan cepat sebanyak empat rakaat, tidak menyebut/mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit sekali.” (HR. Muslim).

6.    Kaum munafik malas ketika mendirikan shalat

7.    Kaum munafik riya’ di dalam shalatnya

{ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا} [النساء: 142]
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142)

{وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ} [التوبة: 54]
Artinya: “Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. At-Taubah :54).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin
Ahad, 8 Rabiul Awwal 1434H, Dammam KSA.

Sumber : dakwahsunnah