Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, 30 December 2021

Sikap Pendiri NU, KH Hasyim Asyari, terhadap Gagasan Ukhuwah Islamiyah

HADRATUS  Syaikh KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU), merupakan ulama pejuang yang memahami bagaimana cara untuk mencapai umat Muslim Indonesia yang terbaik. Ia melestarikan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah di Indonesia ini dengan merespon persoalan-persoalan aktual pada zamannya dengan tetap berada pada semangat mempertahankan ukhuwah Islam.

Menurut KH. Hasyim Asyari, berlebihan membela  perkara furu’ (perkara cabang dalam agama) kemudian teledor dalam perkara ushul itu tidak baik. Pada tanggal 9 Pebruari 1940 bertepatan dengan mu’tamar NU ke-XV di Surabaya Jawa Timur ia menyampaikan pidato bersejarah:

“Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap madzhab-madzhab atau terhadap suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perakar furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala. Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini (fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang menghinal al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak. Jihad dalam usaha memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib” (Hasyim Asy’ari, al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan , hal. 33)”.

Berpegangan madzhab itu penting dan wajib, dikarenakan belum sampai pada level mujtahid.

Menurutnya, ada tiga alasan kenapa harus mengikut madzhab. Pertama, umat telah sepakat dalam memahami syariat berpegangan dengan ulama salaf tabi’in. Mereka ini berpegangan dengan syariat yang diajarkan sahabat Nabi ﷺ. Syariat tidak dapat diketahui kecuali dengan dalil naqli dan istinbath (penggalian hukum).

Kedua, sabda Nabi ﷺ yang berbunyi, ikutilah golongan terbesar. Sedangkan empat madzhab tersebut selalu menjadi kelompok mayoritas.

Sebagian besar ulama dan tokoh Islam mengikuti madzhab. Seperti dikatakan: “Kebanyakan mereka adalah ahli madzhab empat, Imam Bukhari adalah pengikut Imam Syafi’i dari jalur al-Hamidi, al-Za’farani dan Karabisi.

Begitu juga dengan Ibnu Khuzaimah dan al-Nasa’i. Imam Junaid mengikuti Madzhab Imam Tsauri. Imam Syibli mengikuti Imam Malik, al-Muhasibi mengikti Imam Syafi’i, Imam Jariri mengikut Madzhab Imam Hanafi, Abdul Qadir al-Jailani mengikuti Imam Hanbali, Imam Syadzili mengikuti Imam Malik.

Ketiga, keadaan zaman yang sudah begitu rusak, di mana sudah sulit ditemukan ulama yang benar, dan banyak orang yang tidak amanah (KH. Hasyim Asy’ari, Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah, hal. 15).

Meskipun begitu, KH Hasyim tidak mengajarkan untuk fanatis. Menganut salah satu madzhab fikih bukan berarti fanatik, karena mengikut imam yang memiliki otoritas keilmuan merupakan hal yang sangat lazim dalam Islam sebagaimana yang dijalankan oleh para ulama terdahulu.

Tetapi bila menyesatkan madzhab fikih lain atau imam yang lain adalah tidak lazim. Maka, pendapat KH. Hasyim Asy’ari mempertahankan madzhab yang sudah ada dapat ditafsirkan sebagai usaha beliau agar tidak ada konfrontasi sosial di antara kaum Muslimin di Jawa. Sebab, madzhab (dalam hal ini Syafi’iyah) merupakan warisan pada muballigh yang datang ke Nusantara.

Ketika umat Islam dijajah oleh Belanda dan Jepang pada tahun 1900-an, berdiri organisasi-organisasi Islam dengan berbagai varian pemikirannya. Maka, di saat ini ukhuwah Islam dikedepankan oleh KH Hasyim Asy’ari.

Hal ini menjadikan perselisihan furu’ yang telah terjadi, bisa dikelola dengan baik dengan mengedepankan semangat ukhuwah.

Kepada para penganut madzhab yang jumlahnya mayoritas di Indonesia, KH Hasyim menganjurkan untuk tetap mempertahankan madzhabnya itu. Sementara kepada jamaah lain yang tidak bermadzhab untuk tidak menggugat sitem madzhab.

Jawaban terhadap penggugat madzhab telah ditulis dalam kitabnya Risalah Ahlissunnah, tujuannya supaya penggugat madzhab memahami dengan benar apa yang dianut Madzhab syafi’iyyah. Jadi jawaban beliau dalam konteks membangun tafahum (saling memahami) kepada kaum Muslim yang tidak menganut madzhab.

Jadi, penjelasan-penjelasan KH Hasyim Asy’ari tentang sistem ke-madzhaban ini bertujuan dua; internal dan eksternal. Internal untuk kalangan penganut madzhab untuk tetap bermadzhab, tetapi tidak fanatik.

Sementara secara eksternal, memberi pemahaman kaum Muslimin yang tidak bermadzhab, bahwa madzhab itu tradisi Islam yang lazim, sehingga tidak perlu digugat. Apalagi penganut madzhab di Indonesia mayoritas.

Penjajah dan Persatuan Islam

Pada sekitar tahun 1935, Belanda memainkan politik tipu muslihat. Gubernur Belanda bersikap melunak kepada pesantrennya. Pemerintah penjajah menawarkan bantuan.

Tidak cukup itu, Belanda mengumumkan akan memberikan gelar Bintang Perak kepada KH. Hasyim Asyari atas jasanya dalam mengembangkan pendidikan Islam. Tetapi gelar kehormatan dalam bidang pendidikan dan bantuan itu ia tolak.

Penjajah Belanda tidak putus harapan. Untuk kedua kalinya KH. Hasyim Asy’ari didekati dengan melakukan lobi-lobi melalui orang-orang suruhan Belanda. Menyampaikan maksud dari pemerintah Belanda akan memberikan gelar yang lebih tinggi lagi yaitu memberikan Bintang Emas.

Pemberian kedua ini pun ia tolak sekali lagi. Sebab beliau tahu bahwa pemberian gelar itu cuma akal-akalan Belanda supaya beliau jinak kepada penjajah asing.

Pemikiran demikian yang hendak dibangun untuk menyambung persaudaraan muslimin di saat kaum muslimin dijajah asing. KH. Hasyim Asy’ari adalah pejuang yang dikenal tidak pernah mau tunduk kepada penjajah Belanda dan Jepang meski beliau sering membujuknya.

KH Hasyim Asy’ari pernah menyampaikan pidato tegas dalam acara pertemuan ulama seluruh Jawa Barat di Bandung. Ia mengatakan:

“Kita seharusnya tidak lupa bahwa pemerintahan dan pemimpin mereka (Belanda) adalah Kristen dan Yahudi yang melawan Islam. Memang benar, mereka seringkali mengklaim bahwa mereka akan netral terhadap berbagai agama dan mereka tidak akan menganak emaskan satu agama, akan tetapi jika seseorang meneliti berbagai usaha mereka untuk mencegah perkembangan Islam pastilah tahu bahwa apa yang mereka katakana tidak sesuai dengan apa yang mereka praktekkan. Kita harus ingat bahwa Belanda berusaha agar anak-anak kita menjauhkan mereka dari ajaran-ajaran Islam dan mencekoki mereka dengan kebiasaan buruknya. Belanda telah merusak kehormatan Negara kita dan mengeruk kekayaan. Belanda telah mencoba memisahkan ulama dari umat. Dalam berbagai hal, Belanda telah merusak kepercayaan umat terhadap ulama dengan berbagai cara” (Mutiara-Mutiara Dakwah KH. Hasyim Asy’ari, hal. 294).”

Apa yang diinginkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dari semua sikapnya ini adalah supaya bangsa Indonesia bisa hidup mandiri, bebas dari intervensi asing, dan membangun negara yang adil dan beradab. Dalam keadaan umat Islam diserang dan dipojokkan terus oleh penjajah, maka KH. Hasyim Asy’ari membangun jaringan intelektual dan ulama Muslim untuk menyatukan muslimin dalam satu wadah.

Sebab, untuk membangun kekuatan bangsa Indonesia, diperlukan jaringan intelektual Muslim sebagai penggerak.  Bagi KH. Hasyim Asy’ari,  para intelektual Muslim, jangan sampai terpecah tapi harus menyatu.

Indonesia akan lemah jika intelektual Muslim lemah. Pada tahun 1944, beberapa tokoh Islam mengangkat KH. Hasyim Asy’ari sebagai ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) yang komponennya dari beberapa organisasi Islam di Indonesia.

Ketika keadaan umat Islam Indonesia terjadi perpecahan pada masa penjajahan. KH. Hasyim Asyari tetap mengusahakan untuk membuat persatuan di antara mereka. Jika umat Islam — sebagai komponen terbesar bangsa Indonesia —  terpecah, maka akan berpengaruh besar terhadap bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Apalagi Indonesia masih sedang dalam cengkeraman penjajah. Jadi persatuan Indonesia, harus diasaskan terlebih dahulu oleh persatuan umat Muslim Indonesia. Persatuan menurut KH. Hasyim Asy’ari harus dibangun di atas dasar keikhlasan dan kesadaran individu. Selain itu, perlu adanya kesadaran berdasarkan agama yang satu yaitu Islam (Mutiara-Mutiara Dakwah KH. Hasyim Asy’ari, hal. 294).*

Penulis peneliti InPAS dan dosen di INI-Dalwa, Bangil, Pasuruan

Wednesday, 24 March 2021

Namimah : Perusak Solidaritas

 Ada sebuah hadits Dari Ibnu Abbas, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, menceritakan bahwa  ketika Rasulullah saw. melewati sebuah kebun di Madinah atau Mekah beliau mendengar suara dua orang yang sedang menangis karena disiksa dalam kuburnya. Nabi bersabda, "Keduanya sedang disiksa  karena masalah yang sulit untuk mereka tinggalkan". Kemudian beliau kembali bersabda, "Mereka tidaklah disiksa karena dosa yang mereka anggap dosa besar. Orang yang pertama tidak menjaga diri dari percikan air kencingnya sendiri. Sedangkan orang kedua suka melakukan namimah". (HR. Bukhari).🌿


👉 Berkata Imam Nawawi men-syarah hadits di atas, "Para ulama menjelaskan namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka". Jadi,  Namimah adalah adu domba atau provokasi. Namimah bisa berbentuk ucapan, bisa pula dalam bentuk perbuatan. Segala bentuk ucapan yang menjurus agar seseorang membenci atau menyakiti orang lain, termasuk namimah.

Namimah bisa berakibat rusaknya hubungan atau persaudaraan sesama muslim. Akan ada benih kebencian dan dendam pada diri seseorang bila ia termakan namimah orang lain. Dampak lebih jauhnya, perselisihan semakin meruncing. Bukan hanya kerusakan diri, bisa jadi kerusakan materi pula bila terjadi perkelahian atau kontak fisik. 🌺


✍️ Suatu saat Imam Syafi’i didatangi seseorang yang menyampaikan kepadanya bahwa sesungguhnya si fulan dalam suatu pertemuan telah mengatakan begini dan begitu tentang engkau wahai Imam. Lalu Imam Syafii mendatangi orang yang menceritakan sang imam itu dalam  majlis. Apa yang dilakukan oleh Iman Syafi’i ? Ia menyampaikan terima kasih kepada si fulan. Orang yang melaporkan ke Imam Syafii itu merasa heran dan bertanya-tanya kenapa justru dia mendatanginya. Imam Syafii mengatakan “saya telah menyampaikan terima kasih kepadanya karena sesungguhnya ia telah melimpahkan kebaikannya ke dalam timbangan kebaikanku tanpa saya harus berbuat kebaikan dan kejelekan saya telah dilimpahkan kepadanya”. Itulah salah satu resiko yang harus ditanggung jika kita suka menceritakan aib orang kepada orang lain. Menurut sejumlah ulama bahwa ketika seseorang menggunjing, mengadu domba dan memutarbalikkan fakta maka itu adalah wujud dari lemahnya keimanan orang tersebut. Dalam Islam perbuatan tersebut dinamakan sebagai Namimah. 🍁


👉 Namimah adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama dengan berbagai dalil dari Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw antara lain sebagai berikut:


قال رسول الله صلي الله عليه وسلم  ” لا يَدْخُلُ الجَنَّةَ نَمَّامٌ ” رواه البخاري ومسلم. 

Artinya; Tidak akan masuk surga orang-orang yang suka mengadu domba (namimah).


قال تعالى : وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ . هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (سورة القلم:) 10،11 

Artinya; Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, Yang suka mencaci, lagi yang suka menyebarkan fitnah hasutan (untuk memecah belahkan orang ramai) 🎋


✍️ Seorang muslim sejatinya menjunjung tinggi prilaku yang terpuji, baik dari segi tingkah laku maupun komunikasi dengan orang lain. Dan pada waktu yang sama menghindari perilaku negatif seperti menggunjing dan mengadu domba karena hal yang demikian itu sangat berbahaya terhadap kehidupan seseorang. Akibatnya bisa merusak hubungan persaudaraan antara satu dengan yang lain, merusak kerukunan hidup seseorang, dan menimbulkan kondisi masyarakat yang tidak kondusif, dan yang lebih parah lagi dapat mengakibatkan pembunuhan atau konflik antara sesama.🙏

Tuesday, 25 August 2020

Bahagiakan Keluarga di Hari Asyura, Niscaya Kau Bahagia Sepanjang Tahun

Membahagiakan keluarga tak perlu menunggu waktu tertentu. Tapi membahagiakan keluarga di hari asyura bernilai spesial. Sebab ada hadits yang menyebutkan, ia akan membawa kebahagiaan sepanjang tahun.

Memang pada hadits-hadits itu lafadznya adalah wassa’a (وسّع) yang artinya memberi kelapangan. Namun arti luasnya adalah menyenangkan hati dan membahagiakan. Ini juga salah satu amalan sunnah pada bulan Muharram. Khususnya pada hari asyura, tanggal 10 Muharram.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah membuat judul khusus التوسعة يوم عاشوراء (Bagaimana merayakan hari Asyura). Lalu ulama Mesir itu mencantumkan hadits:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu.” (HR. Baihaqi)

“Hadits tersebut memiliki riwayat lain, tetapi semuanya lemah,” kata Sayyid Sabiq. “Hanya saja apabila digabungkan antara satu dengan lainnya, maka bertambah kuat sebagaimana yang telah dikatakan Sakhawi.”

Hadits-Hadits Penguat

Berikut ini sebagian hadits-hadits yang Sayyid Sabiq maksudkan sebagai penguat hadits tersebut:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkannya di keseluruhan tahun itu.” (HR. Thabrani dan Hakim)

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka ia takkan kesulitan di waktu lain sepanjang tahun itu.” (HR. Thabrani)

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu.” (HR. Baihaqi)

Bahkan ada hadits yang menyebutkan keutamaannya tak hanya untuk dirinya tetapi juga untuk keluarganya.

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ أَهْلِهِ طَوْلَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan kepada keluarganya sepanjang tahun itu.” (HR. Baihaqi)

Cara Membahagiakan Keluarga di Hari Asyura

Bagaimana cara membahagiakan keluarga atau memberikan kelapangan di hari asyura? Caranya bisa bermacam-macam. Segala hal bernilai membantu keluarga dan menyenangkan hati mereka masuk dalam kategori ini.

Berikut ini beberapa contoh cara membahagiakan keluarga di hari asyura:

·         Memberi hadiah kepada anak di hari asyura

·         Memberi hadiah kepada istri di hari asyura

·         Memberi bunga kepada istri

·         Menulis surat cinta untuk istri dan memberikannya

·         Memberi uang belanja lebih kepada istri

·         Mentransfer uang lebih kepada istri

·         Membantu istri mencuci baju

·         Membantu istri menyeterika

·         Membersihkan rumah (menyapu, mengepel, dan sebagainya)

·         Membantu istri memasak

·         Buka bersama di rumah makan (jika aman dari resiko penyebaran corona)

·         Mengajak keluarga wisata (jika aman dari resiko penyebaran corona)

Selain membahagiakan keluarga, sunnah lain di hari asyura adalah puasa asyura. Di antara keutamannya, bisa menghapus dosa setahun sebelumnya. Penjelasan lengkap mengenai hukum, keutamaan, tata cara dan niatnya bisa dibaca di artikel Niat Puasa AsyuraSo, bahagiakan keluarga di hari asyura. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/KeluargaCinta]

Monday, 27 July 2020

Niat & Doa Menyembelih Hewan Qurban Sesuai Sunnah Rasulullah, Perhatikan Baik-baik

Insya Allah beberapa hari lagi kita akan menyambut lebaran Hari Raya Idul Adha.

Dalam hari tersebut disyariatkan untuk menyembelih hewan qurban. Umumnya umat Islam akan bergegas untuk gotong-royong, bahu-membahu dalam proses penyembelihan hewan qurban.

Para ibu-ibu menempatkan diri mereka di belakang, menyiapkan amunisi untuk para panitia. Para Bapak-bapak, ada yang jadi tukang jagalnya, ada yang spesialis nguliti, ada juga yang memotongi tulang dan sebagian lainnya memasukkan daging qurban ke tas kresek untuk dibagikan.

Pertanyaannya kemudian, apakah jagal hewan qurban tersebut tahu Niat & Doa Menyembelih Hewan Qurban Sesuai Sunnah Rasulullah?

Syaikh Masyhur Hasan Salman menyatakan bahwa, doa menyembelih Qurban yang wajib adalah ucapan basmalah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Kemudian disunnahkan untuk mengucapkan doa berikut setelah basmalah,

اَللهُ أَكْبَرُ، هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ

“Allah Maha Besar, (Udhiyyah) ini dari-Mu dan kembali kepada-Mu.”

Syaikh Muhammad Shalih menjelaskan, bahwa bacaan yang wajib dalam doa menyembelih Qurban (Udhiyyah) adalah at-Tasmiyah atau Basmalah saja. Sedangkan doa tambahan lainnya itu hanya kesunnahan atau mustahab.

Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa hadits Rasulullah yang derajatnya shahih. Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, mengucapkan bismillah dan bertakbir serta meletakkan kakinya pada samping leher.” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian hadits dari Aisyah radhiyallahu anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh untuk diambilkan dua ekor domba bertanduk yang kakinya berwarna hitam, perutnya terdapat belang hitam, dan di kedua matanya terdapat belang hitam. Kemudian domba tersebut diserahkan kepada beliau untuk diqurbankan, lalu beliau bersabda kepada Aisyah, ‘Wahai Aisyah, bawalah pisau kemari.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Asahlah pisau ini dengan batu.’ Lantas ‘Aisyah melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah diasah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut dan membaringkannya, lalu beliau menyembelihnya. Kemudian beliau mengucapkan: ‘Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad.’ Beliau berqurban dengannya.” (HR. Muslim)

Kemudian hadits dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Aku ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di Mushalla (lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah qurbanku dan qurban siapa saja dari umatku yang belum berqurban.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 1521)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal,

اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

“Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138)

Tambahan lafal doa di atas dimaksudkan sebagai tanda syukur atas rezeki hewan Qurban atau Udhiyyah yang telah diberikan kepada dirinya hal mana itu adalah murni pemberian Allah dan dikembalikan kepada Allah dengan penuh keikhlasan. (Syarh al-Mumthi’, 7/492)

Niat & Doa Menyembelih Hewan Qurban Sesuai Sunnah Rasulullah


Jadi kesimpulannya, Niat dan doa menyembelih Qurban atau udhiyyah yang sesuai dengan sunnah adalah sebagai berikut:

Pertama, Jika hewan Qurban disembelih untuk diri sendiri, maka doa menyembelih Qurban (Udhiyyah) yang diucapkan seperti ini,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma inna hadza minka wa laka.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya (sembelihan) ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِي

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘Anni wa ‘an Ahli Baiti.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, ini dari hamba dan dari keluarga hamba.”

Kedua, Jika hewan Qurban atau Udhiyyah yang disembelih bukan milik sendiri, artinya si penyembelih statusnya hanya sebagai wakil, maka lafal doa menyembelih Qurban (Udhiyyah) seperti ini,

بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘an fulan (fulan diganti dengan nama pemiliknya)

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari si fulan (sebutkan nama pemiliknya)”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلاَنٍ وَآلِ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma taqabbal min fulan (fulan diganti nama pemilik Qurban) wa aali fulan (fulan diganti nama pemilik Qurban)

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah terimalah (Qurban ini) dari fulan (sebutkan nama pemiliknya) dan keluarga fulan (sebutkan nama miliknya).”

Semoga bagi panitia penyembelihan hewan qurban, terutama bagian penjagalnya tidak keliru dalam melafalkan doa dan mengamalkan sunnah-sunnah lainnya.

Friday, 24 July 2020

Doa Terbaik adalah pada Hari Arafah

DAN Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS 40 Ghofir/ Al-Mukmin: 6)
Rasulullah SAW bersabda: “Doa terbaik adalah doa pada hari Arafah”. (Riwayat At-Tirmidzi dengan sanad hasan)
Rasulullah SAW bersabda: “Tiada hari yang paling banyak Allah membebaskan hambaNya dari api neraka dari hari Arafah”. (Riwayat Muslim).
Banyak dari kalangan para ulama yang menyimpan hajat-hajat mereka untuk mereka panjatkan kepada Allah dalam doa-doa pada hari Arafah.
Berapa banyak dosa-dosa yang diampuni dan hajat, keinginan, harapan, obsesi, cita-cita serta taubat yang dikabulkan Allah pada hari Arafah.
Pada bulan Ramadhan Allah sembunyikan Lailatul Qadar sehingga kita tidak mengetahuinya secara pasti..
Tapi, pada bulan Dzulhijjah Allah beritahukan kepastian hari Arafah.. Apakah masih kita bermalas-malasan dan tidak bersemangat?!
Perbanyak berdoa dan istighfar serta bertaubat pada sore hari Arafah terutama antara Ashar sampai Maghrib.
Banyak orang shalih yang telah merasakan dan mengalaminya sendiri, mereka berkata: “Tiada satupun doa yang aku panjatkan pada hari Arafah melainkan Allah telah mengabulkannya sebelum berputar setahun”.
Al-Hafidh Ibnu Rajab ra [Wafat 795 H] dalam kitabnya Latha’iful Ma’arif hlm 482 berpendapat bahwa hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari api neraka bagi jama’ah haji yang sedang wukuf di Arafah dan bagi semua umat Islam di semua negeri.
Mari kita perbanyak berdoa untuk diri sendiri, kedua orang tua, keluarga, karib kerabat dan semua kaum muslimin, bahkan semua manusia. []
Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami

10 Amalan Ini Balasannya Setara dengan Pahala Naik Haji

MENUNAIKAN ibadah haji merupakan impian setiap muslim. Ibadah yang dilakukan setahun sekali itu merupakan rukun Islam kelima yang hanya dapat ditunaikan oleh muslim yang terpanggil dan mampu untuk melaksanakannya. 
Banyak diantara muslim yang belum mampu melaksanakan haji, mengingat berbagai situasi dan kondisi. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Jumlah jemaah haji telah dibatasi dan pelaksanaannya juga dilakukan dengan ketat berdasarkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus.
Nah, bagi yang belum berkesempatan menginjakan kaki di tanah suci untuk berhaji, tak perlu berkecil hati. Setidaknya ada 10 amalan yang imbalannya setara dengan ibadah haji, lho. 
Dilansir dari About Islam, berikut ini 10 amalan tersebut:

1
Memohon kepada Allah dari subuh hingga isyraq

Rasulullah (SAW) bersabda:
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia tetap duduk sambil berzikir kepada Allah sampai matahari terbit dan kemudian shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah.”
Beliau menekankan kata ‘sempurna’ sebanyak tiga kali dalam hadis ini.

2
Menuntut ilmu

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Orang yang pergi ke masjid hanya ingin belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji lengkap.”

3
Shalat berjamaah

Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidakkah Allah memberikan kepadamu (pahala) shalat Isya berjamaah sama dengan ibadah haji, dan shalat Subuh berjamaah sama dengan umrah?” (HR Muslim)

4
Menghadiri Shalat Jumat

Sa’id bin al-Musayyib mengatakan bahwa melaksanakan shalat Jum’at adalah “lebih disukai bagi-Ku (Allah SWT) daripada haji nafl.”

5
Mendirikan shalat Id

Salah satu sahabat berkata, “Pergi shalat Idul Fitri sama dengan melaksanakan umrah dan pergi shalat Idul Adha sama dengan melakukan haji.”

6
Memenuhi kebutuhan sesama muslim

Hasan al-Basri berkata:
“Pergi memenuhi kebutuhan sesama muslim lebih baik bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali (dilakukan berkali-kali).”

7
Taat pada orang tua

Nabi memerintahkan salah satu sahabat untuk berbuat baik kepada ibunya. Beliau SAW berkata:
“Anda seperti seorang jamaah haji, seseorang yang melakukan umrah, dan seseorang yang berjuang demi Allah (mujahid).”

8
Zikir

Salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW mengabarkan: “Dia yang membaca Subhanallah 100 kali di pagi hari dan 100 kali lagi di malam hari adalah seperti orang yang melakukan haji 100 kali!”

9
Menahan diri dengan tegas dari tindakan terlarang

Beberapa orang saleh mengatakan, “Menjauhkan diri dari kesalahan sedikit lebih baik dari lima ratus (nafl) haji.”

10
Perbuatan baik selama 10 hari pertama Zulhijjah

Beramal sholeh selama 10 hari pertama Zulhijjah akan diganjar pahala yang sangat besar. []
SUMBER: ABOUT ISLAM