Friday, 10 April 2020
Wednesday, 1 April 2020
Tersebarnya Bencana karena Kezaliman
Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman :
{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } [الأنفال: 25]
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.
عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.
Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,
“Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”
Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.
Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.
Korupsi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah bentuk kezaliman lain yang berakibat serupa. Para pelakunya mendapatkan “kenikmatan” dan “kemakmuran” di atas penderitaan masyarakat banyak.
Imam Ahmad meriwayatkan:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: “بَلَى”، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: “يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ”
Dari Ummu Salamah, dia berkata :
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila perbuatan- perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?’ Beliau menjawab, “Benar.”
Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.” (HR Ahmad).
Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.” (HR Ahmad).
Fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat itu tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah Saw. dengan sabdanya :
” مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا “
“Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, ‘Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.’ Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa. Jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya”
(H.R Al-Bukhari)
(H.R Al-Bukhari)
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda:
” لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ “
‘Tidak halal darah seorang Muslim yang bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah, dan aku (Muhammad) rasul Allah, kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa (orang lain) tanpa alasan syar’i, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum Muslimin)’.”
(H.R al-Bukhari dan Muslim)
(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Beliau menegaskan bahwa dosa membunuh seorang Mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.
Allah SWT tidak akan membinasakan kota-kota kecuali jika penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman
Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa Indonesia, khususnya sebagian daerah di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa manusia kepada Sang Pencipta. Dalam Quran Surat Al Qhashash ayat ke-59 Allah mengatakan bahwa,
{وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ} [القصص: 59]
“dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. (Quran Surat Al Qhashash ayat ke-59).
Kalimat terakhirlah yang menjadi indikasi dari semua bencana yang yang ada. Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yaitu makhluk yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini.
Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan yang membuat kerusakan lingkungan hidup di darat, air maupun di udara.
Nilai-nilai moral yang dulunya diagungkan-agungkan masyarakat kian tergerus seiring makin terbukanya katup globalisasi membuat budaya masyarakat kita kian tergantikan dengan budaya barat yang modern. Lihatlah sekeliling kita, betapa nilai-nilai adab, etika dan akhlak yang kian terpuruk semakin jelas. Budaya malu dan kesopanan terasa kian menghilang.
Sebagai langkah awal agar pelaku kezaliman yang merusak alam dan pelaksana kemaksiatan bersegera untuk meninggalkan semua perbuatannya yaitu dengan peringatan dan pelajaran akan kengerian dan sakitnya menghadapi kematian.
Allah Ta’ala telah memperingatkan:
{كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ } [القيامة: 26 – 30]
“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau.” (Q.S Al-Qiyamah : 26-30).
Namun langkah di atas tidak akan berjalan dengan baik dan menjadi mata rantai sebuah solusi tanpa adanya pemerintahan yang bersih, peduli, amanah dan serius dalam menjalankan roda pemerintahan yang semestinya. Hal lain yang juga perlu di perhatikan adalah dengan menyerahkan urusan kepada ahlinya, bukan lagi asal tunjuk, asal-asalan dengan dasar kepentingan golongan atau sekelompok orang tertentu.
Selama kemaksiatan dan kemungkaran merajalela tanpa ada sedikitpun usaha untuk menghentikannya, yakinlah bencana itu akan datang silih berganti.
Karena itu marilah kita berbenah, memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan tempat kita berada untuk istiqamah dalam mengamalkan dan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua, amiin.
(Dari berbagai sumber)/ http://zhamelank.heck.in/diberiteks ayat dan hadits oleh nahimunkar.com.
***
Jadi sesat dan diazab jika membiarkan kezaliman
Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ia berkata
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ (رَوَاهُ أبو داود والترمذي وَغَيْرُهُمَا)
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya, sanadnya shahih)
(nahimunkar.com)
Saturday, 29 February 2020
Baca Doa Ini Sebelum Pergi Ke Masjid, Niscaya 70.000 Malaikat Akan Memintakan Ampun Untukmu
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ibu Majah, ada suatu doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, yang mana jika doa ini dibaca sekali saja maka para malaikat akan memnintakan ampun baginya. Berikut adalah terjemahan teks lengkap sanad beserta matan hadits yang dimaksud.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa'id bin Yazid bin Ibrahim At Tustari berkata, telah menceritakan kepada kami Al Fadhlu Ibnul Muwaffaq Abu Al Jahm berkata, telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Marzuq dari Athiyyah dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa berjalan menuju masjid lalu mengucapkan;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِينَ عَلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا فَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلَا بَطَرًا وَلَا رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً وَخَرَجْتُ اتِّقَاءَ سُخْطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ فَأَسْأَلُكَ أَنْ تُعِيذَنِي مِنْ النَّارِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ;
ALLAHUMMA INNI AS`ALUKA BI HAQQIS SA`ILIIN 'ALAIKA WA AS`ALUKA BI HAQQI MAMSYAAYA HADZA FA INNI LAM AKHRUJ ASYARAN WA LAA BATHARAN WA LAA RIYA`AN WA LAA SUM'ATAN WA KHARAJTU ITTIQA`A SUKHTHIKA WABTIGHA`A MARDLATIKA FA AS`ALUKA AN TU'IDZANI MINANNAR WA AN TAGHFIRALI DZUNUBI INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUBA ILLA ANTA
(Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan hak peminta kepada-Mu, dan aku juga meminta dengan hak jalanku ini. Sesungguhnya aku keluar bukan untuk keburukan, bukan untuk kesombongan, bukan untuk riya dan bukan untuk dipuji. Aku keluar agar terhindar dari murka-Mu dan mengharap ridla-Mu. Maka, aku meminta agar Engkau melindungiku dari siksa neraka dan mengampuni dosaku, sebab tidak ada yang mengampuni dosa selain-Mu),
Maka Allah akan menerimanya dengan wajah-Nya, Dan 70.000 malaikat juga akan memintakan ampunan untuknya." (HR Ibnu Majah)
Sumber: Sunan Ibnu Majah Kitab Al Masjid Wa Al Jama'ah.
Thursday, 27 February 2020
11 Amalan dan Keutamaan Bulan Rajab Menurut Habib Umar bin Hafidz
Bulan Rajab adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. Di dalamnya banyak keutamaan yang sayang jika dilewatkan. Maka sebagai Muslim, hendaknya untuk tidak menyia-nyiakan keutamaan bulan yang sangat mulia ini.
Menurut Habib Umar bin Hafidz, dikutip dari akun Instagram @habibumar_indonesia, Selasa (25/2/2020) ada 11 keutamaan bulan Rajab serta amalan yang hendaknya dilakukan:
Pertama:
كثرة الاستغفار وتحقيق التوبة النصوح
Perbanyak membaca Istighfar dan bertaubat dengan sebenar benarnya taubat.
كثرة الاستغفار وتحقيق التوبة النصوح
Perbanyak membaca Istighfar dan bertaubat dengan sebenar benarnya taubat.
Kedua:
العزم الصادق في الإقبال على الله بفعل الطاعات، وترك المعاصي والمخالفات.
Kesungguhan di dalam mengejar ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan kemaksiatan yang dilarang Allah.
العزم الصادق في الإقبال على الله بفعل الطاعات، وترك المعاصي والمخالفات.
Kesungguhan di dalam mengejar ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan melaksanakan ketaatan, dan meninggalkan kemaksiatan yang dilarang Allah.
Ketiga:
النظر في أحواله وإصلاحها وإقامتها على منهج المتابعة للنبي محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم
Menginterospeksi keadaan dirinya kemudian memperbaikinya serta membangun kehidupannya di atas peneladanan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa ala alihi wa sohbihi wa sallam.
النظر في أحواله وإصلاحها وإقامتها على منهج المتابعة للنبي محمد صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم
Menginterospeksi keadaan dirinya kemudian memperbaikinya serta membangun kehidupannya di atas peneladanan Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa ala alihi wa sohbihi wa sallam.
Keempat:
تفقُّد شأنه في الفرائض وكيفية أدائها وسننها ورواتبها وحضور القلب فيها.
Memperhatikan keadaan dirinya dalam menjalankan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya secara detail dan di dalam menjalankan sunnah-sunnah serta rawatib, dan memperhatikan kehadiran hatinya di dalam menjalankan semua itu.
تفقُّد شأنه في الفرائض وكيفية أدائها وسننها ورواتبها وحضور القلب فيها.
Memperhatikan keadaan dirinya dalam menjalankan kewajiban yang Allah wajibkan kepadanya secara detail dan di dalam menjalankan sunnah-sunnah serta rawatib, dan memperhatikan kehadiran hatinya di dalam menjalankan semua itu.
Kelima:
الحرص على الصف الأول في الجماعة، والحرص على التكبيرة الأولى مع الإمام فلا تفوته.
Berusaha untuk selalu shalat berjamaah di shaf pertama dan berusaha untuk selalu mendapatkan takbiratul ihram setelah imam.
الحرص على الصف الأول في الجماعة، والحرص على التكبيرة الأولى مع الإمام فلا تفوته.
Berusaha untuk selalu shalat berjamaah di shaf pertama dan berusaha untuk selalu mendapatkan takbiratul ihram setelah imam.
Keenam:
أن يتفقد نفسه في القرآن ونصيبه من تلاوته وتدبره، والحرص على العمل بما فيه.
Hendaknya memiliki saham yang besar di dalam membaca Al-Quran, mentadabburi ayat-ayatnya, serta dalam mengamalkan tuntunannya.
أن يتفقد نفسه في القرآن ونصيبه من تلاوته وتدبره، والحرص على العمل بما فيه.
Hendaknya memiliki saham yang besar di dalam membaca Al-Quran, mentadabburi ayat-ayatnya, serta dalam mengamalkan tuntunannya.
Ketujuh:
المحافظة على الأذكار في الصباح والمساء وبعد الصلوات، وفي الأحوال المختلفة.
Merutinkan pembacaan dzikir di pagi dan sore hari dan dzikir seusai shalat lima waktu.
المحافظة على الأذكار في الصباح والمساء وبعد الصلوات، وفي الأحوال المختلفة.
Merutinkan pembacaan dzikir di pagi dan sore hari dan dzikir seusai shalat lima waktu.
Kedelapan:
أن يتفقَّد نفسه في المعاملة مع الأهل والأصحاب والأصدقاء والأقارب والجيران، ومع عامة الخلق وخاصتهم.
Memperhatikan dirinya dalam bergaul yang baik dengan rumah tangga, sahabat, teman, keluarga, tetanggga dan kepada seluruh mahluk.
أن يتفقَّد نفسه في المعاملة مع الأهل والأصحاب والأصدقاء والأقارب والجيران، ومع عامة الخلق وخاصتهم.
Memperhatikan dirinya dalam bergaul yang baik dengan rumah tangga, sahabat, teman, keluarga, tetanggga dan kepada seluruh mahluk.
Kesembilan:
صيام ما تيسر من أيام الشهر، وخصوصا الاثنين والخميس والأيام البيض.
Berpuasalah di bulan ini, khususnya dihari Senin dan Kamis, dan juga di Ayyamul Bhidh (13, 14, 15 di bulan Hijriah).
صيام ما تيسر من أيام الشهر، وخصوصا الاثنين والخميس والأيام البيض.
Berpuasalah di bulan ini, khususnya dihari Senin dan Kamis, dan juga di Ayyamul Bhidh (13, 14, 15 di bulan Hijriah).
Kesepuluh:
أن يكون له نصيب من الصدقات والتفقُّد للفقراء والمساكين، والإحسان إليهم.
Hendaknya memiliki saham besar dalam bersedekah dan memenuhi hajat orang-orang faqir dan miskin, dan berbuat baik kepada mereka.
أن يكون له نصيب من الصدقات والتفقُّد للفقراء والمساكين، والإحسان إليهم.
Hendaknya memiliki saham besar dalam bersedekah dan memenuhi hajat orang-orang faqir dan miskin, dan berbuat baik kepada mereka.
Kesebelas:
اغتنام هذه الليالي في العبادة، خصوصا وقت السحر، فينبغي في مثل هذا الشهر أن يكون له حال حسن في المعاملة مع السحر، ليدخل في دائرة من أثنى عليهم الرب الأكبر في القرآن بالاستغفار في الأسحار، قال تعالى ( وبالأسحار هم يستغفرون) وقال سبحانه وتعالى: ( والمنفقين والمستغفرين بالأسحار ) وقال تعالى ( إنهم كانوا قبل ذلك محسنين كانوا قليلا من الليل ما يهجعون وبالأسحار هم يستغفرون ).
Hendaknya mengambil kesempatan emas dimalam malam bulan rajab ini untuk beribadah, khususnya di waktu akhir malam, maka alangkah baiknya jika di bulan ini kita berada di dalam keadaan yang mulia disaat akhir malam.
اغتنام هذه الليالي في العبادة، خصوصا وقت السحر، فينبغي في مثل هذا الشهر أن يكون له حال حسن في المعاملة مع السحر، ليدخل في دائرة من أثنى عليهم الرب الأكبر في القرآن بالاستغفار في الأسحار، قال تعالى ( وبالأسحار هم يستغفرون) وقال سبحانه وتعالى: ( والمنفقين والمستغفرين بالأسحار ) وقال تعالى ( إنهم كانوا قبل ذلك محسنين كانوا قليلا من الليل ما يهجعون وبالأسحار هم يستغفرون ).
Hendaknya mengambil kesempatan emas dimalam malam bulan rajab ini untuk beribadah, khususnya di waktu akhir malam, maka alangkah baiknya jika di bulan ini kita berada di dalam keadaan yang mulia disaat akhir malam.
Di mana Allah berfirman: -(dan di saat sahar (akhir malam) mereka meminta pengampunan)- dan Allah juga berfirman: -(orang yang selalu menginfakkan hartanya dan yang meminta pengampunan di malam hari)-, dan Allah juga berfirman -(Sesungguhnya mereka sebelumnya adalah orang orang yang baik, yang sedikit dari malam-malamnya tertidur dan di malam hari selalu beristgfar meminta pengampunan Allah)-.
نسأل الله أن يوفر حظنا من هذه الليالي وهذا الشهر، وأن يجعلنا من المقبولين المسعودين في الدنيا والآخرة.
Kami memohon kepada Allah untuk memberikan bagian besar dari kemuliaan malam-malam bulan yang mulia ini, dan menjadikan kita dari hamba-hamba yang diterima ibadahnya dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kami memohon kepada Allah untuk memberikan bagian besar dari kemuliaan malam-malam bulan yang mulia ini, dan menjadikan kita dari hamba-hamba yang diterima ibadahnya dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Wallahu A’lam bish Shawab..
Beberapa Tanda Orang yang Diterima Shalatnya
DALAM Hadis Qudsi disebutkan mengenai orang-orang yang diterima salatnya oleh Allah Swt.
“Sesungguhnya Aku (Allah SWT) hanya akan menerima salat dari orang yang dengan salatnya itu dia merendahkan diri di hadapan-Ku. Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Dia tidak mengulangi maksiat kepada-Ku. Dia menyayangi orang-orang miskin dan orang-orang yang menderita. Aku akan tutup salat orang itu dengan kebesaran-Ku. Aku akan menyuruh malaikat untuk menjaganya. Dan kalau dia berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankannya. Perumpamaan dia dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan Firdaus di surga.“
Kita lihat yang kedua ini: “Dia tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain.” Jadi, tanda orang yang diterima salatnya ialah tidak takabur.
Takabur, menurut Imam Al-Ghazali, ialah sifat orang yang merasa dirinya lebih besar daripada orang lain. Kemudian ia memandang enteng orang lain itu. Boleh jadi ia bersikap demikian dikarenakan ilmu, amal, keturunan, kekayaan, anak buah, atau kecantikannya.
Kalau Anda merasa besar karena memiliki hal-hal itu dan memandang enteng orang lain, maka Anda sudah takabur. Dan shalat Anda tidak diterima. Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Takkan masuk surga seseorang yang dalam hatinya ada rasa takabur walaupun sebesar debu saja.”
Biasanya masyarakat akan menjadi rusak kalau di tengah-tengah masyarakat itu ada orang yang takabur. Kemudian takabur itu ditampakkan untuk memperoleh perlakuan yang istimewa. Dan anehnya, seringkali sifat takabur ini menghinggapi para aktivis masjid atau aktivis kegiatan keagamaan. Mereka biasanya takabur dengan ilmunya dan menganggap dirinya paling benar. (Inilah)
Sumber Islampos
Wednesday, 5 February 2020
Ini Ancaman Pemimpin yang Zalim pada Rakyatnya
Dari Ma’qil bin Yasir Radhiyallahu
‘anhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam
bersabda:
“Tidaklah seorang hamba yang Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk
mengatur rakyat (bawahan), tatkala (hari dimana) dia meninggal dunia, sementara
ia dalam kondisi berbuat Ghisy kepada rakyatnya, kecuali Allah akan
mengharamkan baginya surga.” (HR Bukhari nomor 6617, versi Fathul Bari
nomor 7150 dan Muslim nomor 3509, versi Syarh Muslim nomor 142)
Telah kita sebutkan bahwasanya pemimpin yang adil akan dinaungi oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat di padang Masyhar tatkala matahari
diturunkan kira-kira 1 mil. Sebaliknya, kalau ada seorang pemimpin yang tidak
adil maka dia telah melakukan dosa yang sangat berbahaya.
Kenapa? Karena ketidakadilannya. Karena kezhalimannya. Karena perbuatan
ghisy nya berkaitan dengan banyak orang. Berbuat zalim kepada satu orang dengan
dua orang berbeda, apa lagi berbuat zalim dengan seribu orang atau bahkan satu
juta orang, berbahaya!
Bayangkan! Misalnya ada seorang gubernur mengeluarkan satu peraturan yang
ternyata gubernur tersebut zalim dalam peraturannya tersebut. Misalnya gubernur
itu membuat aturan demi kemaslahatan dirinya dan peraturan tersebut memberi
kemudharatan kepada rakyat banyak, maka betapa banyak dosa yang akan dia
tanggung. Betapa banyak orang akan menuntut dia pada hari kiamat dalam
persidangan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka, seorang pemimpin (penguasa) hendaknya memikirkan hal ini, terutama
kepada saudara-saudara kita yang bekerja di pemerintahan sebagai pegawai
negeri.
Telah kita sebutkan bahwa hadis ini mencakup pemimpin yang paling utama
(raja), gubernur, kemudian juga pemimpin-pemimpin kecil baik menteri maupun
pemimpin-pemimpin lain seperti lurah, kepala bagian yang dia memiliki anak
buah, maka dia harus melakukan yang terbaik bagi anak buahnya.
Ingat! Pemimpin itu bukanlah bekerja untuk dirinya, pemimpin adalah wakil
yang ditugaskan bekerja untuk kemaslahatan rakyat. Pemimpin bekerja bukan untuk
kemaslahatan dirinya tetapi untuk rakyat.
Oleh karenanya Imam Syafi’i berkata, “Kedudukan seorang pemimpin terhadap
rakyatnya seperti kedudukan seorang wali terhadap yatim.”
Kita tahu anak yatim, apabila orang tuanya meninggal dunia maka ada walinya,
misalnya Om nya atau kakaknya. Wali tersebut harus mengurus harta anak yatim
tersebut dengan baik.
Bagaimana dia mengurus yang terbaik buat anak yatim? Dalam syariat dalam
mengurus anak yatim dibolehkan seorang wali makan dari hasil anak yatim itu,
namun dia tidak boleh membohongi anak yatim tersebut, misalnya mengambil banyak
harta anak yatim tersebut sehingga anak yatim tersebut terlantar.
Apabila ini terjadi maka dia telah melakukan ghisy. Sama seperti pemimpin,
pemimpin tatkala bersikap dengan rakyat seakan-akan dia bersikap di hadapan
anak yatim. Bagaimana sikap dia?
Dia harus berusaha yang terbaik baik bagi anak yatim (rakyat) tersebut.
Apabila seorang pemimpin melakukan amalan demi kemaslahatan dirinya kemudian
dia mengorbankan kemaslahatan rakyat, maka dia terancam dengan neraka Jahannam
dan akan diharmkan surga baginya.
Oleh karenanya sebagian ulam mengatakan, “Pemimpin yang zalim (pemimpin yang
melakukan ghisy, tidak melakukan yang terbaik bagi rakyatnya atau bawahannya)
adalah yang berusaha meraih kebahagiaan pribadi dengan mengorbankan kebahagiaan
banyak orang.”
Kebahagiaan rakyat dikorbankan. Kebahagiaan masyarakat dia korbankan. Demi
untuk kepentingan pribadi (kemaslahatan pribadi). Sebagaimana dalam kaidah,
“Balasan sesuai dengan perbuatan.”
Maka pada hari kiamat kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengambil
kebahagian dia (pemimpin tersebut) karena selama di dunia dia telah mengambil
kebahagiaan masyarakat. Maka Allah akan masukan dia ke dalam neraka Jahannam
dan Allah akan haramkan baginya surga.
Ini ancaman yang sangat besar. Oleh karenanya, seorang pemimpin hendaknya
benar-benar bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga dia bisa
melakukan yang terbaik bagi rakyatnya dan dia akan memperoleh pahala yang
sangat banyak.
Menjadi pemimpin yang adil yang akan dinaungi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
pada hari kiamat kelak. Dan perlu saya ingatkan kepada para pemimpin atau yang
memiliki kedudukan (jabatan) yang memiliki bawahan, bahwa seorang pemimpin
harus berusaha melakukan perbaikan (nahi mungkar).
Dan dalam melakukan perbaikan tidak mesti harus terjadi perbaikan secara
total. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa nahi mungkar ada 2 (dua)
tingkatan (martabat) yaitu:
1. Tingkatan yang pertama, ini yang terbaik, adalah merubah segala
kemungkaran menjadi kebaikan (terjadi perubahan total 100 persen). Ini yang
diharapkan, tapi tidak semua orang bisa melakukannya, tidak semua kondisi
mendukungnya.
2. Tingkatan yang kedua, mengurangi kemungkaran. Kita mungkin memiliki
jabatan dan masuk ke dalam sistem, kemudian sistem itu rusak (misalnya) ada praktek
korupsi. Banyak praktek-praktek yang haram sehingga mengorbankan masyarakat dan
yang lainnya.
Apabila kita tidak bisa merubah secara total hendaknya kita melakukan
perbaikan. Tatkala kita melakukan proses perbaikan, sesungguhnya kita sedang
bernahi mungkar dan kitapun dapat pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa? Karena ada perbaikan yang kita usahakan.
Oleh karenanya ini yang bisa dilakukan oleh para pegawai negeri: melakukan
sesuai prosedur, melakukan perubahan demi perbaikan. Jangan sampai sebaliknya:
menyalahi prosedur, melakukan kecurangan, menerima harta haram, mengorbankan
masyarakat, menarik uang sebanyak mungkin dari masyarakat.
Ingat! Apabila dia melakukan seperti ini maka dia akan binasa kelak pada
hari kiamat. (Inilah)
Oleh Ustadz Firanda Andirja, MA
Tuesday, 4 February 2020
Masya Allah, Ini Keutamaan Shalat Berjamaah Selama 40 Hari
Syariat Islam mengajarkan banyak
cara agar setiap muslim terhindar dari api neraka. Salah satunya melalui shalat
yang dilakukan selama 40 hari secara berjamaah.
Keutamaan shalat berjamaah selama
40 hari ini ditujukan bagi orang yang tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama
imam.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Siapa yang melaksanakan shalat
karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia tidak luput dari
takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu
terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi, no.
241. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 2652)
Dilansir Rumaysho, terdapat sebuah
kisah yang disampaikan oleh Ibnul ‘Imad Al-Aqfahsi (salah seorang ulama
Syafi’i) bahwa ada seorang yang mencuri 400 unta milik Abu Umamah Al-Bahili,
juga 40 hamba sahayanya.
Ia pun sedih lantas menemui
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam menyatakan, “Ini barangkali karena engkau
sering luput dari takbiratul ihram bersama imam.” Abu Umamah pun berkata,
“Wahai Rasulullah, jadi seperti itukah akibatnya jika luput dari takbiratul ihram bersama
imam?” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Bahkan itu lebih parah dari
hilangnya unta sepenuh bumi.” (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Imad
Al-Aqfahsi dalam Al-Qaul At-Taam fii Ahkam Al-Ma’mum wa Al-Imam, hlm. 43).
Hadits di atas punya penguat
diriwayatkan dari Ibnu Syahin dalam At-Targhib (1: 157), dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Takbiratul pertama yang didapati
bersama imam lebih baik dari memiliki 1.000 unta.” Disebutkan pula oleh
As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Al-Kabir, no. 10720.
Zhahir hadits menunjukkan syarat
untuk terus-menerus selama 40 hari, tanpa diselang dengan absen dari jamaah
atau terlambat. Hal tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan Imam
Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dari Anas bin Malik radliyallah ‘anhu:
مَنْ
وَاظَبَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَةِ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً لا تَفُوْتُهُ
رَكْعَةٌ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا بَرَاءَتَيْنِ، بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ
وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ
“Siapa yang menekuni (menjaga
dengan teratur) shalat-shalat wajib selama 40 malam, tidak pernah tertinggal
satu rakaatpun maka Allah akan mencatat untuknya dua kebebasan; yaitu terbebas
dari neraka dan terbebas dari kenifakan.” (HR. Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, no.
2746)
Pada kata “Muwadhabah” bermakna
dilakukan berturut-turut dan tidak diselang dengan absen dari berjamaah
atau masbuq (terlambat)
sehingga tidak mendapatkan takbiratul
ihram imam. Menilik hadits tersebut, hanya bagi orang yang
telah melaksanakan shalat berjamaah selama 40 hari dan mendapatkan takbiratul ihram imam
secara terus menerus.
Melaksanakan shalat berjamaah
selama 40 hari, bagi orang-orang yang sibuk bisa jadi terasa berat. Namun
dengan tekad yang kuat dan usaha maksimal serta selalu meminta pertolongan
Allah, insya Allah hal ini akan sangat mungkin bisa dilakukan.
Wallahu A’lam. (Fath)
Subscribe to:
Posts (Atom)