Monday, 22 July 2019

Tips Membaca Doa saat Ruku dan Sujud

ALI bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarangku untuk membaca (ayat Al-Quran) ketika ruku dan sujud. (HR. Muslim no. 480)
Lalu bagaimana dengan berdoa dengan doa dari Al-Quran saat sujud? Jawabnya, hal ini tidaklah mengapa. Kita boleh saja berdoa dengan doa yang bersumber dari Al Quran. Seperti doa sapu jagat, Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah: 201).
Atau doa agar diberikan keistiqamahan, Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 8).
Alasannya karena niatan ketika itu adalah bukan untuk tilawah Al Quran, namun untuk berdoa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun bersabda, Setiap amalan tergantung pada niat. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).
Salah seorang ulama Syafiiyah, Az-Zarkasyi rahimahullah berkata, Yang terlarang adalah jika dimaksudkan membaca Al Quran (ketika sujud). Namun jika yang dimaksudkan adalah doa dan sanjungan pada Allah maka itu tidaklah mengapa, sebagaimana pula seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al-Quran (Tuhfah Al-Muhtaj, 6:6, Mawqi Al-Islam). (Inilah)
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Friday, 12 July 2019

Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman

Dalam sebuah hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Allah mengharamkan kezaliman terhadap diri-Nya. Kemudian Allah haramkan pula kezaliman di tengah-tengah manusia dan mempertegasnya dengan kalimat larangan, “Jangan lah kalian saling menzalimi!”. Maka wajarlah jika Imam Adz-Dzahabi menempatkan kezaliman termasuk diantara al-Kabair (dosa-dosa besar).
Ketika Allah telah mengharamkannya melalui lisan Nabi-Nya dan ulama juga telah menegaskan besar dosanya, maka sudah terbayang betapa berat siksaan bagi pelaku kezaliman kelak. Namun demikian, ada saja orang yang tidak takut dengan-Nya dan tidak mengindahkan peringatan-Nya. Tidak tanggung-tanggung, mereka melakukan kezaliman secara berjamaah dengan terstruktur dan sistematis. Mereka memanfaatkan setiap orang yang menempati posisi tertentu untuk saling menguatkan kezaliman dan melegitimasinya.


Pembantu Kezaliman Dikumpulkan Bersama Penguasa Zalim
 
Allah mengancam mereka semua, walau berbeda-beda posisi, kerja dan jabatannya, namun di mata Allah mereka adalah satu golongan.
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
“(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dulu mereka sembah.” (QS. As-Shaffat : 22)
Rabi’ bin Khutsaim rahimahullah menafsirkan ayat tersebut,
يُحْشَرُ الْمَرْءُ مَعَ صَاحِبِ عَمَلِهِ
Manusia dikumpulkan bersama rekan kerjanya.” (Majmu’ul Fatawa, 7/62)
Mereka yang tolong-menolong dan membantu dalam kezaliman tidak akan pernah luput dari pengawasan Allah. Tidak ada satu langkah pun dari mereka kecuali setiap jengkalnya diawasi oleh Allah, tidak ada satu titik pun dari perbuatan mereka kecuali akan dibalas oleh Allah. Mustahil bagi Allah lalai terhadap kezaliman, apa pun profesi dan lembaganya yang ikut membantu dalam memperkuat dan melegalkan kezaliman, Allah tidak pernah mengabaikannya. Bahkan, sekedar cenderung terhadap kezaliman ditegur langsung oleh Allah.
وَلا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud : 113)
Orang-orang yang membantu sebuah kezaliman mendapatkan balasan yang sama sesuai dengan andilnya dala sebuah tindak kezaliman. Lantaran mereka memberikan manfaat langsung kepada pelaku zalim. Kaki dan tangan mereka berinteraksi langsung, mata pun melihat kezaliman tersebut, namun tidak ada pengingkaran dari mereka terhadap kezaliman.
Ibnu Jauzi berkata :
مساعد الظلم ظالم، قال السجان لأحمد بن حنبل: هل أنا من أعوان الظلمة؟ فقال: لا، أنت من الظلمة؛ إنما أعوان الظلمة من أعانك في أمر
“Pembantu kezaliman termasuk orang zalim. Seorang (tukang cambuk) berkata kepada Ahmad bin Hanbal : apakah saya termasuk pembantu kezaliman? Beliau menjawab : tidak, kamu termasuk yang berbuat zalim, pembantu kezaliman hanyalah orang yang membantumu dalam urusanmu.” (Shaidul Khathir, hlm. 435)
Nah, setiap orang yang membantu kezaliman termasuk zalim. Mereka adalah satu golongan yang kelak akan dikumpulkan bersama di hari Kiamat. Namun, balasan yang mereka terima sesuai dengan kadar bantuan yang mereka berikan.
 
Tingkatan Manusia dalam Membantu Kezaliman
 
Pembantu kezaliman bertingkat-tingkat sesuai dengan andil yang mereka berikan dan setiap tingkatan ada konsekuensinya masing-masing. Di antara tingkatan tersebut ialah :
1. Setingkat dengan pelaku kezaliman, ialah yang menggunakan tangannya untuk memukul dan tenaganya untuk melaksanakan kezaliman. Biasanya mereka adalah tangan kanan pemimpin zalim. Karena pekerjaannya atau pengabdiannya kepada pemimpin zalim itu, orang-orang menjadi tersakiti, teraniaya dan merasa takut. Nabi mengecam mereka tidak akan mencium wanginya Surga.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua golongan dari penduduk neraka yang tidak pernah aku melihatnya, golongan yang membawa cambuk seperti ekor sapi, dengannya ia mereka memukul manusia, dan perempuan-perempuan berpakaian tapi telanjang melenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, tidak pula mencium baunya, padahal baunya dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Orang kelompok pertama adalah orang-orang yang menjalankan perintah kezaliman secara langsung dari penguasa zalim. Mereka bisa berupa algojo dan pesuruh raja yang memegang cemeti, menakut-nakuti manusia dengan cemeti yang dimilikinya, mncambuk manusia bahkan memenjarakan manusia tanpak haq.
Mereka juga bisa berupa para petugas penarik pajak dan upeti penguasa yang mengambil harta manusia secara zalim. Potret mereka bisa berkembang dari masa ke masa dan dari zaman ke zaman.
2. Orang-orang yang menyeru atau memprovokasi untuk melakukan kezaliman. Bisa jadi mereka menyerukan atau membela kezaliman dengan memanfaatkan forum-forum pertemuan, mimbar-mimbar, media sosial, lembaga pendidikan, seni dan sebagainya. Pengaruh mereka terhadap kezaliman tidak lah sedikit. Karena kejahatannya, mereka akan dijerumuskan ke Neraka sedalam tujuh puluh musim.
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللَّهِ، لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا، فَيَهْوِي بِهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ سَبْعِينَ خَرِيفًا
“Sesungguhnya seseorang mengucapkan suatu kalimat yang dibenci Allah, yang ia tidak mengetahui bahayanya, maka dengannya ia dijatuhkan ke dalam neraka jahannam sedalam tujuh puluh musim.” (HR. Ibnu Majah no. 3970)
Kelompok kedua ini adalah provokator. Baik dengan halus maupun kasar, mereka melakukan provokasi yang menyebabkan sebuah kezaliman terjadi. Mereka bisa seorang wartawan yang dengan berita-beritanya menyebabkan timbul kezaliman, mereka bisa para akademisi yang dengan tulisan dan kajiannya melahirkan sebuah tindak kezaliman, mereka bisa tokoh masyarakat, bahkan bisa jadi dari kalangan ulama suu’.
3. Mereka yang hatinya condong dengan kezaliman. Mereka senang dengan kezaliman yang dilakukan oleh orang yang zalim, mereka juga rela terhadap kezaliman yang dirasakan oleh orang yang tak bersalah. Padahal mereka tidak ingin kezaliman itu menimpa diri mereka. Sikap ini bisa jadi karena kecintaan terhadap kelompok atau suku tertentu, sehingga melupakan ikatan persaudaraan seiman. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ingin supaya mereka instropeksi dan kembali merenungi sedalam-dalamnya kondisi keimanan mereka.
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang, sampai ia mencintai sesuatu seperti halnya ia mencintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari no. 13).
4. Mereka yang membantu kezaliman dengan cara acuh. Mereka biarkan saudara-saudaranya terzalimi, tanpa mengingkari kezaliman dalam hatinya.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا، وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, jangan menzaliminya, mengacuhkannya dan menghinakannya. Takwa itu di sini. Beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali. Cukuplah seseorang itu buruk ketika ia menghinakan saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim no. 2564)
 
Ancaman bagi Penguasa Zalim dan Antek-antek Kezaliman
 
Tidak cukup di situ, beratnya siksaan orang-orang yang zalim dan yang membantunya juga datang dari sikap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang penyayang dan mencintai umatnya berlepas diri dari para pemimpin yang pendusta dan orang-orang di belakangnya yang turut membantunya. Lantaran kezaliman mereka yang diikuti dan dibantu banyak orang, menjadikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menolak mereka untuk mencicipi telaganya di hari kiamat kelak.
Dari Ka’ab bin ‘Ujrah berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami sedang kami ada Sembilan orang, beliau bersabda :
إِنَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ
“Sungguh setelahku akan ada para pemimpin. Siapa yang membenarkan kebohongannya dan membantunya berbuat zalim, maka bukan termasuk umatku dan tidak akan datang ke telagaku. Dan siapa yang tidak membenarkan kebohongannya dan tidak membantunya dalam berbuat zalim, maka ia termasuk umatku dan termasuk orang yang datang ke telagaku.” (HR.an-Nasa’i no. 4207)
Demikianlah jika seorang pemimpin berbuat zalim, akan membawa orang-orang di lembaga atau aparaturnya untuk ikut menjadi zalim. Sungguh kezaliman merupakan dosa besar yang diancam langsung oleh Allah dengan siksa-siksa di Neraka. Namun, hilangnya rasa takut dan hasrat duniawi menjadikan mereka lalai, padahal Allah sedetik pun tidak lalai dari mengawasi mereka. Wallahu ‘alam bish showab.

sumber : www.kiblat.net

Saturday, 15 June 2019

TITIK TEMU WAHABI-NU

Oleh: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA
(Imam Besar Masjid Istiqlal, wafat 28 April 2016)

Banyak orang terkejut ketika seorang ulama Wahabi mengusulkan agar kitab-kitab Imam Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, diajarkan di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah Islam di Indonesia.
Hal itu karena selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.
Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi.
Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.
Untuk menilai paham Wahabi, kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahabi, seperti kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan termasuk kitab-kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang kepadanya paham Wahabi itu dinisbatkan.
Sementara untuk mengetahui paham keagamaan Nahdlatul Ulama, kita harus membaca, khususnya kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy'ari yang mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Kami telah mencoba menelaah kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan membandingkannya dengan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah dan lain-lain. Kemudian, kami berkesimpulan bahwa lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan imam Ibnu Taymiyyah.
Bahkan, seorang kawan yang bukan warga NU, alumnus Universitas Islam Madinah, mengatakan kepada kami, lebih kurang 90 persen ajaran Nahdlatul Ulama itu sama dengan ajaran Wahabi.
Kesamaan ajaran Wahabi dan NU itu justru dalam hal-hal yang selama ini dikesankan sebagai sesuatu yang bertolak belakang antara Wahabi dan NU. Orang yang tidak mengetahui ajaran Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, maka ia tentu akan terkejut.
Namun, bagi orang yang mengetahui Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, mereka justru akan mengatakan, "Itulah persamaan antara Wahabi dan NU, mengapa kedua kelompok ini selalu dibenturkan?"
Di antara titik-titik temu antara ajaran Wahabi dan NU yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu adalah sebagai berikut. Pertama, sumber syariat Islam, baik menurut Wahabi maupun NU, adalah Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Hadis yang dipakai oleh keduanya adalah hadis yang sahih kendati hadis itu hadis ahad, bukan mutawatir.
Karenanya, baik Wahabi maupun NU, memercayai adanya siksa kubur, syafaat Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti, dan lain sebagainya karena hal itu terdapat dalam hadis-hadis sahih.
Kedua, sebagai konsekuensi menjadikan ijma sebagai sumber syariat Islam, baik Wahabi maupun NU, shalat Jumat dengan dua kali azan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Selama tinggal di Arab Saudi (1976-1985), kami tidak menemukan shalat Jumat di masjid-masjid Saudi kecuali azannya dua kali, dan kami tidak menemukan shalat Tarawih di Saudi di luar 20 rakaat.
Ketika kami coba memancing pendapat ulama Saudi tentang pendapat yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat itu sama dengan shalat Zhuhur lima rakaat, ia justru menyerang balik kami, katanya, "Bagaimana mungkin shalat Tarawih 20 rakaat itu tidak benar, sementara dalam hadis yang sahih para sahabat shalat Tarawih 20 rakaat dan tidak ada satu pun yang membantah hal itu." Inilah ijma para sahabat.
Ketiga, dalam beragama, baik Wahabi maupun NU, menganut satu mazhab dari mazhab fikih yang empat. Wahabi bermazhab Hanbali dan NU bermazhab salah satu dari mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.
Baik Wahabi (Imam Ibnu Taymiyyah) maupun NU (Imam Muhammad Hasyim Asy’ari), sama-sama berpendapat bahwa bertawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) itu dibenarkan dan bukan syirik.
Kendati demikian, Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, mensyaratkan bahwa dalam berdoa dengan tawasul menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh, kita tetap harus yakin bahwa yang mengabulkan doa kita adalah Allah SWT, bukan orang yang namanya kita sebut dalam tawasul itu. Wahabi dan NU sama-sama memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.
Memang ada perbedaan antara Wahabi dan NU atau antara Imam Ibnu Taymiyyah dan Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Namun, perbedaan itu sifatnya tidak prinsip dan hal itu sudah terjadi sebelum lahirnya Wahabi dan NU.
Dalam praktiknya, baik Wahabi maupun NU, tidak pernah mempermasalahkan keduanya. Banyak anak NU yang belajar di Saudi yang notabenenya adalah Wahabi. Bahkan, banyak jamaah haji warga NU yang shalat di belakang imam yang Wahabi, dan ternyata hal itu tidak menjadi masalah.
Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme di atas. Wallahu al-muwaffiq.
*Sumber: Republika

Tuesday, 28 May 2019

I'tikaf, dan Solusi Langit pun Hadir

Bumi diselimuti kejahiliyahan. Di seluruh pelosok bumi. Dalam kawalan peradaban Persia dan Romawi. Arab yang tidak tersentuh keduanya pun sama. Mereka hidup dalam carut marut jahiliyyah. Jahiliyyah pada agama mereka. Jahiliyyah pada keyakinan mereka. Jahiliyyah pada akhlak mereka. Jahiliyyah pada ekonomi mereka. Jahiliyyah pada politik mereka. Jahiliyyah pada seluruh kehidupan mereka.
Efek dari putusnya wahyu, serta ketiadaan nabi dan rasul.
Dan selalu akan terulang di zaman manapun. Saat jauh dari wahyu dan petunjuk Rasul.
Hingga di suatu malam. Pada 10 hari terakhir di bulan penuh keberkahan. Bulan Ramadhan. Cahaya itu mulai memancar di antara tumpukan bebatuan.
Gua Hiro’. Sebuah gua kecil yang panjangnya 4 dziro’ dan lebarnya kurang dari 2 dziro’ itu jadi saksi sejarah cahaya bagi manusia.
Shofiyyurrahman al Mubarokfuri dalam Ar Rahiq Al Makhtum memilih pendapat,
“Setelah mengkaji dan merenungi berbagai pertimbangan, maka hari (turunnya wahyu) adalah Senin 21 Ramadhan pada malam hari. bertepatan dengan 10 Agustus 610 H. Umur beliau saat itu 40 tahun Qomariyyah lebih 6 bulan dan 12 hari. Sekitar 39 tahun Syamsiyyah lebih 3 bulan dan 2 hari.”
Kalau banyak peristiwa besar yang dicatat dalam sejarah, maka inilah peristiwa yang bukan saja besar, tetapi agung. Sejarah penyelamatan manusia dari puing-puing kejahiliyyahan. Peristiwa penting saat manusia kembali menjadi manusia untuk menegaskan penghambaan kepada Allah.
Peristiwa bersejarah ini diawali oleh kegundahan Rasul terhadap keadaan di sekelilingnya. Jiwa bersihnya menolak semua bentuk kemusyrikan dan kedzaliman. Terhimpit sesak rasanya dada beliau. Tapi tanpa solusi. Hal inilah yang mengantarkan beliau menuju Gua Hiro’.
Uzlah (menyendiri) di sebuah tempat sepi. Ini adalah merupakan syariat Nabi sebelumnya, yang telah dihapus dalam syariat Rasulullah Muhammad. Dalam kesendirian itu, dalam sepi itu, beliau merenungi dan merenungi. Berpikir dan berpikir. Dari pintu gua, beliau melepaskan pandangannya lurus ke depan. Hanya ada dua yang bisa beliau nikmati. Jika pandangan diarahkan ke bawah, terlihat jelas Ka’bah Baitullah yang dikotori oleh manusia-manusia musyrik.
Permasalahan yang tak kunjung dijumpai solusinya dalam diri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Tetapi saat pandangan dinaikkan perlahan, langit biru menyapa menawarkan solusi itu. Perenungan yang dalam dan syahdu.
Tak hanya itu, beliau beribadah dalam beberapa malam tanpa ada yang mengganggu. Menguatkan hubungan dengan Allah. Dengan kekhusyu’an tingkat tinggi. Karena jauh dari kebisingan dunia.
Dan selalu begitu. Masalah apapun yang ada di carut marut masyarakat, pasti ada solusi langitnya. Walau banyak yang tidak percaya.
Para pendobrak kejahiliyyahan dan pembawa kebaikan harus menguatkan hubungannya dengan Allah. Karena, mustahil perbaikan akan terjadi jika pembawa kebaikan telah larut dalam kemungkaran.
Ada saat-saat yang harus dimanfaatkan dengan baik dalam hidup kita agar kekhusyu’an mencapai puncaknya. Ada waktu malam, seperti dalam ayat berikut,
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Qs. Al Muzzammil: 6)
Di sinilah berkahnya Ramadhan. Bulan mulia itu menyiapkan waktu-waktu khusyu’. Hati manusia sedang terbuka dan siap menerima seluruh wejangan kebaikan. Mungkin perlu beberapa Ramadhan untuk mendapatkan solusi hidayah. Tidak masalah, yang penting lakukan dari Ramadhan ini. Seperti halnya Rasulullah yang telah masuk ke Gua Hiro’ selama 3 Ramadhan. Sebelum akhirnya mendapatkan solusi bagi seluruh manusia. Wahyu itupun hadir menandai tugas beliau sebagai seorang Rasul.
DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh (dalam Khowatir wa Taamulat fis Sirotin Nabawiyyatisy Syarifah) menjelaskan tentang peran uzlah Nabi bagi kemuliaan diri beliau yang siap menerima tugas besar Kerasulan:
“Uzlah (menyendiri) beliau shallallahu alaihi wasallam di Gua Hiro’. Beliau pernah melihat dalamnya Ka’bah. Beliau selalu terkait dengan Ka’bah dan Robb pemilik Ka’bah, hingga saat uzlahnya….”
Jiwa yang dikehendaki akan memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia harus menyendiri di sebagian waktunya dan memutuskan diri dari kesibukan bumi, gegap gempita kehidupan dan kegundahan remeh manusia yang membuat sibuk kehidupan.
Dan Syekh Munir Ghodhban dalam bukunya Fiqhus Siroh menjelaskan bahwa I’tikaf adalah sarana yang masih disediakan bagi umat Muhammad untuk menggantikan Hiro’.
Kita perlu memperbaiki dan mengkaji ulang terhadap banyak pemahaman kita dalam suasana yang mirip dengan Hiro’. Yaitu dengan syariat Allah I’tikaf. Kita kembalikan saluran-saluran yang terkeruhkan oleh berbagai kepadatan bumi dan berbagai filsafat penghuninya. Kita buang jauh-jauh dari sisi kita…
Ini adalah renungan terhadap perjalanan, melihat kembali ke belakang, mengembalikan bekal awal, memeriksa tingkah laku, menyaring logika, melembutkan hati dan membersihkan jiwa agar kita bisa melanjutkan kembali perjalanan di atas penjelasan dan petunjuk.
Jadi, ternyata inilah solusi yang hilang itu. Ketika I’tikaf tidak lagi menjadi kebiasaan muslimin di Ramadhan, maka berbagai kekeruhan itu tidak kunjung pergi. Mungkin Ramadhan telah dilaluinya puluhan kali, tetapi tetap saja jiwa, pikiran dan tingkah lakunya kotor. Untuk mendapatkan solusi langit, maka hidupkanlah Hiro’ kita dalam kesendirian kita dengan Allah di rumah-rumah Allah di sepuluh terakhir Ramadhan.
Dan solusi itupun hadir. Diawali oleh kegundahan hati yang pasti berawal dari iman yang merasa sendirian dan tidak nyaman, hidup di tengah masyarakat jahiliyyah. Dari mulai menguatkan hubungan dengan Allah, hingga bimbingan wahyu itu mulai turun. Al Alaq: 1-5.
DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh kembali menjelaskan, ketika wahyu turun kepada beliau shallallahu alaihi wasallam di Gua Hiro’, manusia kembali ‘dilahirkan’ pada saat itu…
Dia diperintahkan untuk membaca. Agar dengan membaca bisa memasuki alam yang baru di atas dugaan kebiasaan.
Agar membaca menjadi kunci kebangkitan yang utuh dan sempurna pada setiap bidang kehidupan dunia.
Dan agar semua itu terkait dengan dengan Allah yang Maha Benar (Bacalah dengan nama Tuhanmu). Ini adalah motivasi yang baru. Juga tujuan yang baru.
Sumber: Parenting Nabawiyah

Thursday, 2 May 2019

Tujuh Akibat Halangi Dakwah

Ketahuilah, ini yang akan didapat oleh mereka yang menghalangi dakwah.

Pertama, mendapat laknat Allah sebagaimana Abu Lahab (baca QS al-Lahab [111]: 1-4). 
Kedua, disiksa dengan sangat pedih di akhirat kelak. Begitu juga di dunia, azab-Nya disegerakan, bahkan disebut sebagai orang zalim yang sangat merugi.
“Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Dan, mereka itulah orang-orang yang tidak percaya akan adanya hari akhirat. Orang-orang itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini dan sekali-kali tidak adalah bagi mereka penolong selain Allah. Siksaan itu dilipatgandakan kepada mereka yang selalu tidak dapat mendengar (kebenaran) dan mereka selalu tidak dapat melihatnya." (QS Huud [11]: 18–22).
Ketiga, kehinaan yang menistakan saat di dunia dan azab berperih tak bertepi saat di akhirat, “Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat." (QS al-Baqarah [2]:114)
Keempat, sebutannya adalah sebagai musuh Allah. Bahkan, Rasul menyatakan perang kepadanya. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, 'Siapa saja yang telah memusuhi juru dakwah-Ku, maka sungguh aku telah menyatakan perang kepadanya,'” (HR Bukhori).
Kelima, menutup jalan dakwah membuat yang lemah iman semakin jahil dan yang membenci Islam semakin berjaya. Padahal, Rasul yang mulia mengajarkan kita berdoa mohon perlindungan Allah dari syamaatatil a'daai, membuat pembenci agama yang mulia ini bertepuk tangan.
Keenam, menumbuhkan kecurigaan, fitnah merebak, bahkan kebencian antarumat semakin tak terbendung. Bukankah, kecurigaan akan menjadi fitnah dan fitnah menimbulkan kebencian dan kebencian menyulut permusuhan.
Ketujuh, jika akhirnya meninggal, bukan saling mendoakan, tapi meneruskan serapah dan melanggengkan kutukan. Naudzubillah min dzalika.


Semoga kita bukan yang menghalangi dakwah, tapi yang membahu saling membentangkan tangan, mengulur lapang jalan dakwah. Wallahu a'lam.

republika.co.id

Sunday, 21 April 2019

Begini Orang yang Memiliki Sifat Munafik Tingkat Tinggi Ustadz Adi Hid...

Mulailah Ukhuwah dengan Silaturahmi Keluarga

MASALAH harta, warisan bahkan perbedaan keyakinan (madzhab, atau organisasi) kerap menjadi pemicu perseteruan antar anggota keluarga. Sehingga, akibat perbedaan ini, seorang orang tua dengan anak, kakak dan adik atau antar anggota keluarga menjadi terpisah, tidak sapa, seperti tidak saling kenal. Fenomena sosial ini seharusnya menjadi bahan renungan bagi kita semua. Sebab silaturahmi berkorelasi dengan keimanan seseorang dan juga masa depan keislaman kita.

Institusi keluarga adalah salah satu bagian dari komponen masyarakat. Keutuhan sebuah keluarga, merupakan kontribusi besar bagi terwujudnya umat Islam yang kokoh, dan bersatu padu (ukhuwah Islamiyah). Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam telah mewanti-wanti persoalan ini melalui ayat al-Qur’an dan as-Sunnah. Beliau memberi kabar akan bahaya memutus keluarga.
Ancaman Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap pemutus keluarga sangat serius. Dalam surat Muhammad ayat 22-23, Allah Subhanahu wa ta’ala memvonisnya sebagai orang yang terkutuk, dengan telinga ditulikan dan penglihatannya dibutakan.
Artinya, nasihat-nasihat baik tidak akan bisa masuk telinga dan merasuk hatinya. Ia juga kesulitan melihat kebenaran (al-haq) walaupun kebenaran itu nyata di depan mata.
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta’ala juga memberi predikat sebagai orang fasik dan merugi (QS. al-Baqarah 26-27), terkutuk dan penghuni neraka jahannam (QS. al-Ra’d 25). Ancaman al-Qur’an ini kemudian dita’kid (dikuatkan) oleh hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak masuk surga orang yang memutus keluarga.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Penegasan dari hadis Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa ancaman Allah terhadap pemutus tali silaturahmi benar-benar serius.
Dengan demikian, sesungguhnya silaturahmi bertalian dengan keimanan seseorang. Silaturahmi adalah salah satu identitas seorang mu’min. Seorang mu’min mempunyai tabiat selalu menjaga keakraban dengan keluarga dan bila keluarga itu terputus, ia segera menyambung dan mengadakan islah. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menyambung keluarga (silaturahmi).” (HR. Bukhari)
Oleh sebab itu, hukuman orang yang memutus kerabat sungguh berat. Hukuman itu tidak hanya di akhirat tapi juga ditimpakan sejak di dunia. Sebab, memutus tali kekerabatan termasuk dari salah satu dosa besar. Bahkan dosa itu berimplikasi kepada orang-orang di sekitarnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Rahmat itu tidak diturunkan kepada kaum yang di dalamnya ada seorang pemutus keluarga.”(HR. Bukhari) .
Hadis ini menunjukkan bahwa dosa memutus kerabat juga berakses negatif (dicabutnya Rahmat Allah) terhadap orang-orang yang hidup di sekitarnya.
Saudara yang berpisah dan berseteru bisasanya disebabkan pada masalah perebutan harta, warisan, kecemburuan, dan soal pribadi. Konflik dalam masalah-masalah tersebut sudah biasa terjadi dan sering terdengar telinga kita.
Kalau soal harta, kita sering mendengarnya. Tapi sebenarnya ada faktor lain yang mungkin akhir-akhir ini menjadi fenomena baru. Persoalan perbedaan madzhab fikih atau ormas Islam, dan partai kadang menjadi pemicu terjadinya konflik antar keluarga atau antar anggota masyarakat – pada beberapa kasus, soal ini sulit didamaikan.
Seseorang yang sudah mendalami madzhab baru biasanya berusaha kuat menyebarkannya kepada orang terdekat atau saudaranya. Sedang, anggota keluarga lain yang memegang tradisi pendahulunya tidak akan rela melepaskan begitu saja. Ajaran dan doktrin keagamaan harus diturunkan kepada anak cucu. Maka, bila tidak saling memahami, konflik saudara akan terjadi.
Dari perbedaan-perbedaan ini terjadilah salah komunikasi dengan anggota keluarga. Bahkan ada seorang mahasiswa yang aktif dalam gerakan baru di kampusnya rela putus hubungan dengan keluarganya demi berjuang menyebarkan madzhab barunya. Di rumah, ia tidak betah karena keluarganya menolak diajak masuk madzhab baru.
Perbedaan pandangan itu bermacam-macam kadarnya. Besar-kecilnya konflik juga bergantung dengan kadar perbedaan tersebut. Saat terjadi perbedaan hari Raya misalnya yang terjadi beberapa kali, orang sempat bersitegang dengan saudara yang berhari Raya tidak sama. Tetapi ketegangan itu bersifat sementara – bila masing-masing mengerti.
Musibah perpecahan keluarga pernah di alami oleh Nabi Nuh alaihissalam dengan anaknya Qan’aan. Tatkala Nabi Nuh alaihissalam dan ketiga putranya Sam, Ham, Jafits beserta pengikutnya yang beriman sudah berada di dalam kapal, karena ada banjir bandang – Qan’aan yang kafir menolak ajakan Nabi Nuh alaihissalam menaiki kapal. “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah” tolak Qan’aan.
Akibat menolak ajakan ayahnya itu, ia ditenggelamkan oleh Allah dihempas air bah beserta kaum Nabi Nuh alaihissalam yang kafir. Nabi Nuh alaihissalam sedih atas musibah ini, seraya berseru “Ya Allah ia adalah anakku”. Tapi apa jawaban Allah? “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hud: 45).
Mendapat jawaban dari Allah Subhanahu wa ta’ala, Nabi Nuh paham bahwa anaknya telah memutus tali kerabat sekaligus memutus keimanan, ia bukan lagi anaknya. Oleh sebab itu dia harus merelakannya diazab oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
Qan’aan, dalam kisah tersebut walaupun mempunyai hubungan darah, tapi ia menganggap sudah tidak ada hubungan lagi dengan ayahnya. Padahal Nabi Nuh sangat menantikan ia kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan berkumpul kembali bersama saudara-saudaranya.
Beliau berusaha menyambung tali silaturahmi, dengan mengajak kembali kepada Allah. Tapi karena karena ia tetap memegang prinsip kekafirannya, Allah Subhanahu wa ta’ala memisahkannya dengan Nabi Nuh alahihissalam.
Dari kisah tersebut, kita semakin yakin dengan apa yang telah disabdakan Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam.. Orang yang menyambung silaturahmi akan selalu dinaungi rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala , sebaliknya orang yang memutus hubungan silaturahmi akan dihimpit laknat Allah Subhanahu wa ta’ala. Qan’an dalam kisah tersebut menolak ajakan Nabi Nuh untuk merajut tali silaturahmi. Akibatnya, Allah Subhanahu wa ta’ala menimpakan adzab kepadanya.
Jadi persatuan Islam itu mesti dimulai dari silaturahmi keluarga. Caranya, tidak sekedar saling menziarahi, tapi yang lebih penting saling menasihati dan mendakwahi. Keluarga itu komponen masyarakat Islam. Jika kita mampu membentuk keluarga yang islami, rukun dan damai, maka masyarakat yang akan tercipta pun adalah masyarakat beriman bersatu padu di bawah naungan Islam yang dirahmati oleh Allah. */ Kholili Hasib
(Hidayatullah.com)