Saturday, 18 July 2020

NIKMAT PERSAUDARAAN

Sebelum kehadiran Islam, masyarakat Arab berada dalam situasi genting, kacau tidak karuan. Kondisi buruk ini ditandai maraknya permusuhan, kebencian, dan perang di antara kekuatan suku-suku. Itulah di antara penyebabnya, perangai bangsa ini dikenal sebagai jahiliyah. Misalnya, konflik antara suku Aus dan Khazraj di Madinah, perang antara Bani Abdi Manaf dan Bani Hasyim di Makkah, aksi kekerasan antara komunitas kota dan orang-orang gunung di padang pasir, mereka semua bermusuhan, berlomba, dan saling membenci memperebutkan pengaruh, kemegahan, dan gengsi.

Setelah Islam turun dengan perantara Rasulullah SAW, ketegangan ini berubah menjadi keadaan yang kondusif. Lambat laun, nilai persaudaraan dan persatuan di antara suku bangsa Arab mulai terjalin dengan baik dan kokoh dilandasi pilar akidah Islam. Alquran mengingatkan, persaudaraan dan persatuan yang terbangun ini merupakan nikmat Allah ke atas orang-orang beriman. Demikian pula Rasulullah SAW telah banyak mengingatkan kita tentang derajat ajaran Islam ini.

Beliau SAW menganalogikan persaudaraan di antara sesama mukmin itu laksana satu tubuh dan bangunan. Oleh sebab itu, penting bagi setiap Mukmin agar memahami dan menerjemahkan kembali tentang keistimewaan dan pentingnya ajaran mulia ini. 

Pertama, menjaga persaudaraan dan perdamaian adalah bukti ketangguhan iman. Sebaliknya, memicu menciptakan permusuhan dan pertengkaran adalah tanda lemahnya iman.

Kedua, hendaklah waspadai bahwa sumber kebencian, permusuhan, dan pertikaian yang terjadi di antara manusia adalah dorongan perbuatan setan yang terkutuk. Karena kita maklumi, bahwa setan selalu berupaya menyesatkan manusia. Di antaranya menanamkan kebencian dan permusuhan (QS al-Maidah [5]: 91). 

Ketiga, persaudaraan dan kerukunan akan mendatangkan keberuntungan, sekaligus menjaga kemuliaan status sosial . Sebaliknya, pertikaian dan permusuhan akan mengakibatkan kerugian seperti jatuhnya martabat (QS al-Anfal [8]: 46). 

Keempat, pertikaian dan permusuhan menjadi penyebab tertutupnya ampunan Allah.

Kelima, menciptakan kerukunan dan perdamaian adalah di antara jalan atau amal perbuatan untuk mencari ridha Allah SWT. Siapa saja yang melakukannya atas dasar iman dan niat yang lurus maka ia akan menuai pahala atau balasan yang sangat besar. Balasan itu berupa kenikmatan di dunia. Ataupun kenikmatan surga di akhirat kelak (QS an-Nisa [4]: 114).

Berkenaan dengan kedudukan ajaran Islam ini, Buya Hamka mengatakan bahwa persaudaraan adalah nikmat yang paling besar. Sebab, perpecahan, permusuhan, dan kebencian adalah sengketa dan kutuk yang menghabiskan tenaga dan jiwa belaka. Beliau juga berpesan, persaudaraan merupakan nikmat paling besar dan lebih berharga daripada emas dan perak, karena nikmat persaudaraan adalah nikmat dalam jiwa. Dengan persaudaraan maka yang berat dapat sama dipikul, yang ringan dapat sama dijinjing. Wallahu al-Musta'an.

sumber: Republika.co.id

Thursday, 18 June 2020

10 Sebab Turunnya Rahmat Allah Ta'ala

Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Pemberi rahmat (kasih sayang). Bahkan sayangNya terhadap hamba-hambaNya lebih dari sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Dengan kasih sayangNya, Dia menciptakan kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan rizki kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan kesehatan kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia memberikan makan dan minum, pakaian serta tempat tinggal kepada kita. Dengan rahmatNya, Dia menunjukkan kita kepada Islam dan Iman serta amal shalih. Dengan rahmatNya, Dia mengajarkan kepada kita apa yang tidak kita ketahui. Dengan rahmatNya, Dia memalingkan kejahatan musuh-musuh dari diri kita. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya Allah Ta'ala membela orang-orang yang telah beriman." (QS. al-Hajj: 38). Dengan rahmatNya, Dia menurunkan hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,. Dengan rahmatNya, Dia memasukkan hamba-hambaNya yang beriman dan yang beramal shalih ke dalam surga. Dengan rahmatNya, Dia menyelamatkan mereka dari Neraka.Segala sesuatu semuanya adalah berkat rahmat Allah Ta'ala. Oleh karenanya seorang muslim perlu mengetahui faktor penyebab, Allah Ta'ala memberikan rahmat kepada makhlukNya, yaitu:

 

* 1. Berbuat Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala dengan menyempurnakan ibadah kepadaNya dan merasa dimonitor (diawasi) oleh Allah Ta'ala, bahwasanya kamu beribadah kepada Allah Ta'ala, seolah-olah kamu melihatNya, maka jika kamu tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu, dan berbuat baik kepada manusia semaksimal mungkin, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, dan kedudukan. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-A'raf: 56)

 

* 2. Dan di antara sebab-sebab yang paling utama untuk mendapatkan rahmat Allah Ta'ala adalah bertakwa kepadaNya dan menaatiNya dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, seperti mengeluarkan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya (Mustahiq), beriman dengan ayat-ayat Allah swt, dan mengikuti RasulNya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi." (QS. al-A'raf: 156, 157)

 

* 3. Kasih sayang kepada makhluk-makhlukNya baik manusia maupun binatang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang penyayang, maka Allah Ta'ala akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah/ kasilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian." (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

 

Dan hal itu lebih ditekankan lagi kepada orang-orang fakir dan miskin yang sangat membutuhkan. Sedangkan balasan (ganjarannya) sesuai dengan perbuatan, sebagaimana kita berbuat baik, maka kita akan mendapatkan balasan dari kebaikan tersebut.

 

* 4. Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Baqarah: 218).

 

Maka orang-orang yang beriman selalu mengharapkan rahmat Allah Ta'ala setelah mereka melaksanakan sebab-sebab mendapatkan rahmat yaitu iman, hijrah, dan berjihad di jalan Allah Ta'ala. Adapun hijrah meliputi berpindah dari negri syirik ke negri Islam dan meninggalkan apa yang dilarang Allah Ta'ala dan RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Rasululullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Ta'ala." (Muttafaq 'alaih).

 

Sedangkan jihad mencakup jihad melawan hawa nafsu dalam menaati Allah Ta'ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Orang yang berjihad adalah orang yang memerangi hawa nafsunya dalam menaati Allah Ta'ala." (HR. al-Baihaqi).

 

Sebagaimana jihad meliputi pula jihad melawan setan dengan menyelisihinya dan bersungguh-sungguh untuk mendurhakainya dan jihad dalam memerangi orang-orang kafir dan jihad terhadap orang-orang munafik dan pelaku-pelaku maksiat baik dengan tangan, kemudian (jika tidak mampu) dengan lisan, kemudian (jika tidak mampu juga), maka dengan hati.

 

* 5. Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menaati Rasulullah Ta'ala, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta'atlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. an-Nur: 56).

 

* 6. Berdo'a kepada Allah Ta'ala untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-namaNya yang Maha Pengasih (ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (ar-Rahim) atau yang lainnya dari nama-namaNya yang Agung/ Indah, seperti kamu mengatakan, "Ya Rahman (Wahai Yang Maha Penyayang), sayangilah aku (rahmatilah aku), ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmatMu yang luas yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku dan menyayangiku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (QS. al-Kahfi: 10).

 

Dan Allah Ta'ala juga berfirman, artinya, "Hanya milik Allah asma`u al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma`u al-Husna itu." (QS. al-A'raf: 180).

 

Maka hendaklah seseorang memohon setiap permintaannya dengan nama yang sesuai dengan permintaannya itu untuk mendapatkannya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdo'alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu'." (QS. al-Mu'min: 60).

 

Dan firman Allah Ta'ala lainnya, artinya, "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik." (QS. al-Mu'minun: 118).

 

Sungguh Allah Ta'ala telah menyuruh (kita) berdo'a dan menjamin ijabah (mengabulkan do'a tersebut) dan Dia Maha Suci yang tidak pernah mengingkari janji.

 

* 7. Mengikuti al-Qur`an al-Karim dan mengamalkannya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." (QS. al-An'am: 155).

 

* 8. Menaati Allah Ta'ala dan RasulNya shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat." (QS. Ali 'Imran: 132).

 

* 9. Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan al-Qur`an al-Karim. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. al-A'raf: 204).

 

* 10. Istighfar, memohon ampunan dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat." (QS. an-Naml: 46). Wallahu a'lam.

 

Sumber: Diterjemahkan dari Kitab "An-Nuqath al-'Asyarah adz-Dzahabiyah", Syaikh Abdur Rahman ad-Dusari.


Monday, 25 May 2020

Kisah-Kisah Tentang Memutus Hubungan Silaturrahim


Kurang Baik Terhadap Saudara Perempuan

Salah seorang pedagang pasa mengalami kebangkrutan. Dia mencurahkan hatinya kepada sahabatnya dan mengeluhkan kondisinya yang tidak bagus. Pada saat itu juga Syeikh Rajab Ali Khayyat lewat di depan tokonya. Sahabatnya berkata, “Sampaikan kesulitanmu pada beliau.” itu berkata, “Aku tidak mengenalnya.”
Pada akhirnya atas dorongan sahabatnya, dia menemui Syeikh Rajab Ali dan mengucapkan salam, kemudian berkata, “Saya punya masalah dan ingin saya sampaikan kepada Anda.”
Setelah sang pedagang menceritakan masalahnya, Syeikh berkata dalam kondisi kepalanya menghadap ke bawah, “Engkau adalah orang yang tidak punya kasih sayang. Sudah empat bulan suami saudara perempuanmu telah meninggal dunia dan engkau sampai saat ini tidak mendatangi saudaramu dan anak-anaknya. Dari sinilah kesulitanmu muncul.”
Sang pedagang berkata, “Kami ada perselisihan.”
Syeikh berkata, “Di sanalah akar kesulitanmu. Sekarang ketahuilah!”
Sang pedagang kembali kepada sahabatnya dan menceritakan apa yang terjadi.
Kemudian dia membeli barang-barang keperluan rumah dan pergi ke rumah saudara perempuannya dan berdamai dengannya dan kesulitannya menjadi beres. (Kimia-ye Mahabbat, hal 134)
Memutuskan Hubungan Silaturrahim Memendekkan Umur
Ya’qub Maghribi datang menemui Imam Musa bin Jakfar as. Imam Musa berkata kepadanya, “Di tempat peristirahatan tertentu engkau berkelahi dengan saudara lelakimu dan kalian berdua berpisah dan kalian saling mengucapkan kata-kata permusuhan. Hal ini bukan dari agamaku juga bukan dari agama ayahku. Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya perbuatan kalian ini akan berakibat pada sebuah perpisahan dan kematian dan saudara lelakimu dan dia akan mati di dalam perjalanan ini dan engkau akan menyesali perbuatanmu.
Ya’qub berkata, “Kapan kematianku akan sampai?”
Imam Musa as berkata, “Kematianmu juga telah sampai, hanya saja di tempat peristirahatan lainnya engkau telah melakukan silaturrahim pada bibimu [saudara perempuan ayahmu], maka umurmu telah diundur sampai dua puluh (tahun atau bulan) [fasida fi ajalikan ‘siyruna].”
Tapi saudaranya meninggal dunia di tengah perjalanan safar sebelum sampai ke kampungnya dan bertemu dengan keluarganya dan dikuburkan di dalam perjalanan safar.
Pemutus Hubungan Silaturrahim Tidak Akan Melewati Shirat
Abu Dzar mengatakan, Saya mendengar Rasulullah Saw berkata, “Shirat [jembatan yang ada di atas neraka Jahannam dan pada Hari Kiamat semuanya akan melewatinya] kedua arahnya adalah rahim dan amanat. Setiap kali orang yang melakukan silaturrahim dan beramanat melewatinya, maka dia akan berhasil dengan selamat dan sampai ke surga. Setiap kali pengkhianat dan pemutus hubungan silaturrahim melewatinya, maka karena dua dosa inilah, dia tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali dan shirat akan bergerak dan akan menjatuhkannya ke tengah-tengah kobaran api neraka. (Terjemah Jamius Saadat, jilid 2, hal 343)
Ampunan Imam Shadiq as Kepada Hasan Afthas
Ketika Imam Shadiq as mendekati ajalnya, beliau berwasiat agar memberikan uang tujuh puluh dinar kepada anak pamannya; Hasan Afthas.
Dikatakan kepada beliau, “Apakah Anda akan memberikan sesuatu kepada orang yang menyerang Anda dengan pedang?”
Imam Shadiq as berkata, “Aku ingin termasuk orang yang disebut oleh Allah tentang mereka “dan orang-orang yang menyambung sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah untuk menyambungnya”. Sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan mensucikannya serta membuatnya harus dimana baunya bisa dicium dalam jarak dua ribu tahun. Tapi orang yang durhaka terhadap kedua ayah dan ibu dan orang yang memutuskan hubungan silaturrahim tidak akan mendapatkannya.” (Biharul Anwar, jilid 74, hal 97)
Amal Yang Paling Buruk Di Sisi Allah
Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw, “Amal yang manakah yang paling buruk dan paling dibenci oleh Allah?”
Beliau berkata, “Menyekutukan Allah.”
Lelaki tersebut berkata, “Setelah itu apa?”
Beliau berkata, “Memutus hubungan silaturrahim.”
Lelaki tersebut berkata, “Setelah itu apa?”
Beliau berkata, “Menuyuruh pada kemungkaran dan melarang kebaikan.” (Gonahan-e Kabireh, jilid 1, hal 158)
Pemutus Hubungan Silaturrahim Jauh Dari Rahmat Allah
Abdullah bin Sanan berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Saya punya anak paman [sepupu]. Saya melakukan silaturrahim kepadanya. Namun dia memutuskannya. Lalu saya menyambung silaturrahim lagi, tapi dia memutuskannya. Akhirnya saya juga ingin memutuskannya karena sikapnya ini.”
Imam Shadiq as berkata, “Bila engkau tidak memutuskan hubungan silaturrahim dengannya, boleh jadi dia akan malu dan tidak akan memutuskannya lagi. Maka Allah akan menyambungkan rahmat-Nya kepadamu dan kepada anak pamanmu. Apabila dia tetap memustukan hubungan silaturrahimnya dan engkau juga memutuskannya, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya dari kalian berdua. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Hak Keluarga 

Wednesday, 6 May 2020

Kezaliman ke Sesama Bisa Habiskan Pahala Puasa

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Amal-amal shalih kita di Ramadhan wajib dijaga. Karena pahala amal bisa terhapus setelah sebelumnya dicatat untuk pelakunya. Simpanan pahala bisa terkuras akibat kezaliman kepada sesama. Kewajiban seseorang setelah beramal shalih dengan ikhlas dan benar adalah menjaga amal-amal terebut.
Kufur dan syirik sesudah beramal shalih akan menghapuskan amal shalih tersebut secara keseluruhan. Bahkan keduanya merusak iman dan tauhid seseorang sehingga neraka menjadi tempat kembalinya.
Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar: 65)
Kezaliman terhadap sesama juga bisa menguras pahala ibadah dan amal shalih seseorang. Tidak langsung menghabiskan amal secara keseluruhan sebagaimana kufur dan syirik. Namun jika kezalimannya sebanyak simpanan pahalanya, ia akan menjadi pailit atau bangrut. Apalagi kalau melebihinya, setelah habis pahala untuk diberikan ke orang yang dizalimi, dosa-dosa orang itu akan dipikulkan kepadanya –kita berlindung kepada Allah dari bernasib demikian-.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
"Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya dari kehormatan atau sesuatu (miliknya) hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman itu pada hari ini, sebelum datang hari kiamat yang saat itu tidak ada manfaatnya lagi dinar dan dirham, jika ia mempunyai amal shalih maka akan diambil sekadar dengan kezalimannya, dan jika tidak memiliki kebaikan maka keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya." (HR. Al-Bukhari dan lainnya)
Masih dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang orang yang bangrut atau pailit di hari kiamat,
إنَّ المُفْلسَ مِنْ أُمَّتي مَنْ يأتي يَومَ القيامَةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزَكاةٍ ، ويأتي وقَدْ شَتَمَ هَذَا ، وقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مالَ هَذَا ، وسَفَكَ دَمَ هَذَا ، وَضَرَبَ هَذَا ، فيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وهَذَا مِنْ حَسناتهِ ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُه قَبْل أنْ يُقضى مَا عَلَيهِ ، أُخِذَ منْ خَطَاياهُم فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ
Sesungguhnya Al-Muflis (orang yang bangrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat. Dana datang pula bawa dosa mencaci dan menuduh ngawur (fitnah) orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Setelah selesai mengerjakam amal Ramadhan yang bersifat ritual kepada Allah, kita tertuntut untuk berbuat baik kepada sesama. Yakni berusaha memberikan kebaikan ke orang lain dengan lisan, sikap, perbuatan, dan bantuan harta. Bersamaan dengan itu,kita juga harus menghindarkan diri dari mezalimi (menyakiti) orang lain dengan lisan, sikap, dan perbuatan. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]