Saturday, 6 June 2020

Balasan Kedzoliman Kontan Dibayar di Dunia

Balasan Kedzoliman Kontan Dibayar di Dunia

Monday, 25 May 2020

Kisah-Kisah Tentang Memutus Hubungan Silaturrahim


Kurang Baik Terhadap Saudara Perempuan

Salah seorang pedagang pasa mengalami kebangkrutan. Dia mencurahkan hatinya kepada sahabatnya dan mengeluhkan kondisinya yang tidak bagus. Pada saat itu juga Syeikh Rajab Ali Khayyat lewat di depan tokonya. Sahabatnya berkata, “Sampaikan kesulitanmu pada beliau.” itu berkata, “Aku tidak mengenalnya.”
Pada akhirnya atas dorongan sahabatnya, dia menemui Syeikh Rajab Ali dan mengucapkan salam, kemudian berkata, “Saya punya masalah dan ingin saya sampaikan kepada Anda.”
Setelah sang pedagang menceritakan masalahnya, Syeikh berkata dalam kondisi kepalanya menghadap ke bawah, “Engkau adalah orang yang tidak punya kasih sayang. Sudah empat bulan suami saudara perempuanmu telah meninggal dunia dan engkau sampai saat ini tidak mendatangi saudaramu dan anak-anaknya. Dari sinilah kesulitanmu muncul.”
Sang pedagang berkata, “Kami ada perselisihan.”
Syeikh berkata, “Di sanalah akar kesulitanmu. Sekarang ketahuilah!”
Sang pedagang kembali kepada sahabatnya dan menceritakan apa yang terjadi.
Kemudian dia membeli barang-barang keperluan rumah dan pergi ke rumah saudara perempuannya dan berdamai dengannya dan kesulitannya menjadi beres. (Kimia-ye Mahabbat, hal 134)
Memutuskan Hubungan Silaturrahim Memendekkan Umur
Ya’qub Maghribi datang menemui Imam Musa bin Jakfar as. Imam Musa berkata kepadanya, “Di tempat peristirahatan tertentu engkau berkelahi dengan saudara lelakimu dan kalian berdua berpisah dan kalian saling mengucapkan kata-kata permusuhan. Hal ini bukan dari agamaku juga bukan dari agama ayahku. Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya perbuatan kalian ini akan berakibat pada sebuah perpisahan dan kematian dan saudara lelakimu dan dia akan mati di dalam perjalanan ini dan engkau akan menyesali perbuatanmu.
Ya’qub berkata, “Kapan kematianku akan sampai?”
Imam Musa as berkata, “Kematianmu juga telah sampai, hanya saja di tempat peristirahatan lainnya engkau telah melakukan silaturrahim pada bibimu [saudara perempuan ayahmu], maka umurmu telah diundur sampai dua puluh (tahun atau bulan) [fasida fi ajalikan ‘siyruna].”
Tapi saudaranya meninggal dunia di tengah perjalanan safar sebelum sampai ke kampungnya dan bertemu dengan keluarganya dan dikuburkan di dalam perjalanan safar.
Pemutus Hubungan Silaturrahim Tidak Akan Melewati Shirat
Abu Dzar mengatakan, Saya mendengar Rasulullah Saw berkata, “Shirat [jembatan yang ada di atas neraka Jahannam dan pada Hari Kiamat semuanya akan melewatinya] kedua arahnya adalah rahim dan amanat. Setiap kali orang yang melakukan silaturrahim dan beramanat melewatinya, maka dia akan berhasil dengan selamat dan sampai ke surga. Setiap kali pengkhianat dan pemutus hubungan silaturrahim melewatinya, maka karena dua dosa inilah, dia tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali dan shirat akan bergerak dan akan menjatuhkannya ke tengah-tengah kobaran api neraka. (Terjemah Jamius Saadat, jilid 2, hal 343)
Ampunan Imam Shadiq as Kepada Hasan Afthas
Ketika Imam Shadiq as mendekati ajalnya, beliau berwasiat agar memberikan uang tujuh puluh dinar kepada anak pamannya; Hasan Afthas.
Dikatakan kepada beliau, “Apakah Anda akan memberikan sesuatu kepada orang yang menyerang Anda dengan pedang?”
Imam Shadiq as berkata, “Aku ingin termasuk orang yang disebut oleh Allah tentang mereka “dan orang-orang yang menyambung sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah untuk menyambungnya”. Sesungguhnya Allah telah menciptakan surga dan mensucikannya serta membuatnya harus dimana baunya bisa dicium dalam jarak dua ribu tahun. Tapi orang yang durhaka terhadap kedua ayah dan ibu dan orang yang memutuskan hubungan silaturrahim tidak akan mendapatkannya.” (Biharul Anwar, jilid 74, hal 97)
Amal Yang Paling Buruk Di Sisi Allah
Seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Saw, “Amal yang manakah yang paling buruk dan paling dibenci oleh Allah?”
Beliau berkata, “Menyekutukan Allah.”
Lelaki tersebut berkata, “Setelah itu apa?”
Beliau berkata, “Memutus hubungan silaturrahim.”
Lelaki tersebut berkata, “Setelah itu apa?”
Beliau berkata, “Menuyuruh pada kemungkaran dan melarang kebaikan.” (Gonahan-e Kabireh, jilid 1, hal 158)
Pemutus Hubungan Silaturrahim Jauh Dari Rahmat Allah
Abdullah bin Sanan berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Saya punya anak paman [sepupu]. Saya melakukan silaturrahim kepadanya. Namun dia memutuskannya. Lalu saya menyambung silaturrahim lagi, tapi dia memutuskannya. Akhirnya saya juga ingin memutuskannya karena sikapnya ini.”
Imam Shadiq as berkata, “Bila engkau tidak memutuskan hubungan silaturrahim dengannya, boleh jadi dia akan malu dan tidak akan memutuskannya lagi. Maka Allah akan menyambungkan rahmat-Nya kepadamu dan kepada anak pamanmu. Apabila dia tetap memustukan hubungan silaturrahimnya dan engkau juga memutuskannya, maka Allah akan memutuskan rahmat-Nya dari kalian berdua. (Emi Nur Hayati)
Sumber: Hak Keluarga 

Wednesday, 6 May 2020

Kezaliman ke Sesama Bisa Habiskan Pahala Puasa

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Amal-amal shalih kita di Ramadhan wajib dijaga. Karena pahala amal bisa terhapus setelah sebelumnya dicatat untuk pelakunya. Simpanan pahala bisa terkuras akibat kezaliman kepada sesama. Kewajiban seseorang setelah beramal shalih dengan ikhlas dan benar adalah menjaga amal-amal terebut.
Kufur dan syirik sesudah beramal shalih akan menghapuskan amal shalih tersebut secara keseluruhan. Bahkan keduanya merusak iman dan tauhid seseorang sehingga neraka menjadi tempat kembalinya.
Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5)
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar: 65)
Kezaliman terhadap sesama juga bisa menguras pahala ibadah dan amal shalih seseorang. Tidak langsung menghabiskan amal secara keseluruhan sebagaimana kufur dan syirik. Namun jika kezalimannya sebanyak simpanan pahalanya, ia akan menjadi pailit atau bangrut. Apalagi kalau melebihinya, setelah habis pahala untuk diberikan ke orang yang dizalimi, dosa-dosa orang itu akan dipikulkan kepadanya –kita berlindung kepada Allah dari bernasib demikian-.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
"Barangsiapa yang pernah menzalimi saudaranya dari kehormatan atau sesuatu (miliknya) hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman itu pada hari ini, sebelum datang hari kiamat yang saat itu tidak ada manfaatnya lagi dinar dan dirham, jika ia mempunyai amal shalih maka akan diambil sekadar dengan kezalimannya, dan jika tidak memiliki kebaikan maka keburukan saudaranya akan diambil dan dibebankan kepadanya." (HR. Al-Bukhari dan lainnya)
Masih dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang orang yang bangrut atau pailit di hari kiamat,
إنَّ المُفْلسَ مِنْ أُمَّتي مَنْ يأتي يَومَ القيامَةِ بصلاةٍ وصيامٍ وزَكاةٍ ، ويأتي وقَدْ شَتَمَ هَذَا ، وقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مالَ هَذَا ، وسَفَكَ دَمَ هَذَا ، وَضَرَبَ هَذَا ، فيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وهَذَا مِنْ حَسناتهِ ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُه قَبْل أنْ يُقضى مَا عَلَيهِ ، أُخِذَ منْ خَطَاياهُم فَطُرِحَتْ عَلَيهِ ، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ
Sesungguhnya Al-Muflis (orang yang bangrut) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat. Dana datang pula bawa dosa mencaci dan menuduh ngawur (fitnah) orang lain, makan harta orang lain, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Setelah selesai mengerjakam amal Ramadhan yang bersifat ritual kepada Allah, kita tertuntut untuk berbuat baik kepada sesama. Yakni berusaha memberikan kebaikan ke orang lain dengan lisan, sikap, perbuatan, dan bantuan harta. Bersamaan dengan itu,kita juga harus menghindarkan diri dari mezalimi (menyakiti) orang lain dengan lisan, sikap, dan perbuatan. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Friday, 10 April 2020

Inilah 9 Amalan Penolak Bala'


1. Berdoa, رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
"Ya Rabbana jangan uji kami diluar batas kemampuan kami (QS Al Baqoroh 286).

2. Kesungguhan Taqwa.
"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya... Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS Ath Tholaq 2-4)

3. Ridho orang tua, “Keridhaan Tuhan ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Tuhan ada pada kemurkaan orang tua” (HR Tirmidzi).

4. "Sedekah itu menolak bala" demikian sebuah bunyi hadits dari Rasulullah.

5. Banyak Istighfar, "Kami tidak akan turunkan adzab bencana selama mereka masih beristighfar" (QS Al Anfal 33).

6. Shilturrahmi, “Barang siapa yg senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yg buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim)

7. Selalu dzikir dan sholawat, "Petir menyambar kafir juga mu'min tetapi petir tidak akan menyambar orang beriman yang sedang berdzikir,

8. Hobby berbuat baik dan beramal shalih,

هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَـٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَـٰنُ
"Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS Ar Rahman 60).

9. Taubat nashuhan, bertaubat sungguh sungguh (QS At Taubah 126).
Semoga Allah senantiasa melindungi kita, keluarga kita dan seluruh kaum muslimin dari berbagai bala' dan bencana... Aamiin

Wednesday, 1 April 2020

Tersebarnya Bencana karena Kezaliman

Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } [الأنفال: 25]

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,
 “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”
Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.
Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.
Korupsi dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan adalah bentuk kezaliman lain yang berakibat serupa. Para pelakunya mendapatkan “kenikmatan” dan “kemakmuran” di atas penderitaan masyarakat banyak.
Imam Ahmad meriwayatkan:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَاصِي فِي أُمَّتِي، عَمَّهم اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ”. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا فِيهِمْ أُنَاسٌ صَالِحُونَ؟ قَالَ: “بَلَى”، قَالَتْ: فَكَيْفَ يَصْنَعُ أُولَئِكَ؟ قَالَ: “يُصِيبُهُمْ مَا أَصَابَ النَّاسُ، ثُمَّ يَصِيرُونَ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ”

Dari Ummu Salamah, dia berkata :
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila perbuatan- perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?’ Beliau menjawab, “Benar.”
Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.” (HR Ahmad).
Fitnah, kerusakan, atau azab yang terjadi akibat perbuatan maksiat itu tidak hanya menimpa pelakunya, tetapi juga orang lain yang tidak terlibat langsung. Realitas ini digambarkan Rasulullah Saw. dengan sabdanya :

” مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا “

“Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, ‘Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.’ Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa. Jika mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya”
(H.R Al-Bukhari)
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Saw. Bersabda:

” لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ “

‘Tidak halal darah seorang Muslim yang bersyahadat bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah, dan aku (Muhammad) rasul Allah, kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa (orang lain) tanpa alasan syar’i, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum Muslimin)’.”
(H.R al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Beliau menegaskan bahwa dosa membunuh seorang Mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia.
Allah SWT tidak akan membinasakan kota-kota kecuali jika penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman
Dari berbagai rangkaian musibah, ujian dan bala bencana yang menimpa Indonesia, khususnya sebagian daerah di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, adalah karena perbuatan maksiat dan dosa manusia kepada Sang Pencipta. Dalam Quran Surat Al Qhashash ayat ke-59 Allah mengatakan bahwa,

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ} [القصص: 59]

 “dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman”. (Quran Surat Al Qhashash ayat ke-59).
Kalimat terakhirlah yang menjadi indikasi dari semua bencana yang yang ada. Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yaitu makhluk yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini.
Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Kerusakan lingkungan hidup terjadi karena adanya tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung sifat fisik dan/atau hayati sehingga lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan yang membuat kerusakan lingkungan hidup di darat, air maupun di udara.
Nilai-nilai moral yang dulunya diagungkan-agungkan masyarakat kian tergerus seiring makin terbukanya katup globalisasi membuat budaya masyarakat kita kian tergantikan dengan budaya barat yang modern. Lihatlah sekeliling kita, betapa nilai-nilai adab, etika dan akhlak yang kian terpuruk semakin jelas. Budaya malu dan kesopanan terasa kian menghilang.
Sebagai langkah awal agar pelaku kezaliman yang merusak alam dan pelaksana kemaksiatan bersegera untuk meninggalkan semua perbuatannya yaitu dengan peringatan dan pelajaran akan kengerian dan sakitnya menghadapi kematian.
Allah Ta’ala telah memperingatkan:

{كَلَّا إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ (26) وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ (27) وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ (28) وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ (29) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ } [القيامة: 26 – 30]

 “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmu-lah pada hari itu kamu dihalau.” (Q.S Al-Qiyamah : 26-30).
Namun langkah di atas tidak akan berjalan dengan baik dan menjadi mata rantai sebuah solusi tanpa adanya pemerintahan yang bersih, peduli, amanah dan serius dalam menjalankan roda pemerintahan yang semestinya. Hal lain yang juga perlu di perhatikan adalah dengan menyerahkan urusan kepada ahlinya, bukan lagi asal tunjuk, asal-asalan dengan dasar kepentingan golongan atau sekelompok orang tertentu.
Selama kemaksiatan dan kemungkaran merajalela tanpa ada sedikitpun usaha untuk menghentikannya, yakinlah bencana itu akan datang silih berganti.
Karena itu marilah kita berbenah, memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan tempat kita berada untuk istiqamah dalam mengamalkan dan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah SWT melindungi kita semua, amiin.
(Dari berbagai sumber)/ http://zhamelank.heck.in/diberiteks ayat dan hadits oleh nahimunkar.com.
***

Jadi sesat dan diazab jika membiarkan kezaliman

Dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ia berkata

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ  وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ (رَوَاهُ أبو داود والترمذي وَغَيْرُهُمَا)

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya, sanadnya shahih)
(nahimunkar.com)