Marbot yang dzalim ketika mati ditolak masjid
Saturday, 13 January 2018
Wednesday, 10 January 2018
Sunday, 7 January 2018
Kenali 15 Kehormatan Masjid Ini
MASJID merupakan tempat yang dianggap suci oleh umat Islam. Di mana, di sana dijadikan tempat untuk beribadah, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan, masjid-masjid itu laksana rumah-rumah Allah di bumi. Maka, umat Muslim tentu ingin sekali merasakan kedekatan itu melalui masjid.
Sebagaimana Umar bin Khathtab berkata, “Masjid-masjid adalah laksana rumah-rumah Allah di bumi, dan orang-orang yang mengunjunginya adalah laksana tamu-tamu Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi yang dikunjungi untuk memuliakan tamu.”
Sebagai tamu, tentu kita harus menghormati pemilik rumahnya. Begitu pun ketika kita berada di dalam masjid. Lalu, bagaimana cara kita menghormati masjid?
Al Faqih menerangkan bahwa kehormatan masjid itu ada 15, yaitu:
1. Mengucapkan salam sewaktu masuk ke dalam masjid, bila ada orang-orang yang sedang duduk. Bila tidak ada orang yang duduk atau mereka sedang mengerjakan shalat, hendaklah ia mengucap, “As salaamu ‘alainaa min Rabbinaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahishshaalihiin (Semoga kesejahteraan dari Tuhan kami dikaruniakan kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih).”
2. Mengerjakan shalat dua rakaat sebelum duduk, karena ada hadis nabi yang berbunyi, “Setiap sesuatu itu ada penghormatannya, dan penghormatan terhadap masjid adalah shalat dua rakaat.”
4. Tidak menghunus pedang di dalamnya.
5. Tidak mencari barang yang hilang di dalamnya.
6. Tidak mengeraskan suara di dalamnya, kecuali untuk berdzikir kepada Allah SWT.
7. Tidak membicarakan masalah dunia di dalamnya.
3. Tidak mengadakan transaksi di dalamnya.
8. Tidak melangkahi leher orang.
9. Tidak bertengkar masalah tempat.
10. Tidak mendesak-desak dan mempersempit barisan (shaf).
11. Tidak lewat di depan orang yang sedang shalat.
12. Tidak berludah di dalamnya.
13. Tidak membunyikan jari-jarinya.
14. Membersihkan masjid dari najis, orang-orang gila, anak-anak kecil, dan tidak melaksanakan hukuman di dalamnya.
15. Memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak melalaikannya.
Itulah yang dapat kita lakukan dalam menghormati masjid. Kita harus mengenali hak tersebut, karena sebagai tamu tentu kita harus menghormati pemilik rumah tersebut. Dan kita sendirilah yang menganggap bahwa masjid-masjid itu adalah rumah Allah. Maka, perlakukanlah sebagaimana mestinya.
Jangan jadikan masjid sebagai tempat untuk membicarakan masalah dunia. Hanya permasalahan akhiratlah, yakni pendekatan diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh yang harus kita lakukan di dalamnya.
Diriwayatkan dari Al Hasan, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Aku datang pada waktu suatu masa di mana pembicaraan mereka di dalam masjid-masjid mengenai urusan dunia mereka, Allah tidak perlu terhadap mereka, maka janganlah kamu duduk-duduk bersama mereka.” []
Sumber: Terjemah Tanbihul Ghafilin Peringatan bagi Orang-orang yang Lupa 1/Karya: Abu Laits as Samarqandi/Penerbit: PT Karya Toha Putra Semarang
Waspadalah, 3 Dosa Ini Akan Allah Segerakan Azabnya Di Dunia
Seburuk-buruk keadaan ialah azab yang datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka perhatikanlah selalu aktivitas kita dalam kehidupan ini.
Sebagian besar kita seringkali dipersulit oleh tipu daya, yang dengannya menghilangkan kesadaran tentang yang semestinya dikerjakan dan yang seharusnya ditinggalkan. Jika saja setiap kita kembali pada tuntunan, maka bisa dipastikan tidak ada hal-hal yang sebagaimana sekarang.
Betapa kemaksiatan seperti rutinitas, perbuatan tidak pantas menebar berserakan. Anak membunuh ibunya, ibu menggugurkan janinnya. Kemaksiatan, perzinahan di mana-mana. Sungguh, pertanda hari akhir semakin terasa dekatnya. Sebab perilaku manusia telah hilang dari fitrah semestinya.
Dunia ibarat kebun, yang setiap manusia diberikan kesempatan yang sama untuk mengelolanya. Ingin memilih menanaminya dengan tanaman yang baik, memenuhinya dengan amal kebaikan, atau menjadikannya ladang bagi keburukan dan kemaksiatan. Semua mutlak pilihan.
Hanya saja yang perlu setiap kita perhatikan, bahwa pada setiap ladang itu akan dilihat, ditimbang, dinilai dan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat. Sang Pemilik sejati ingin melihat, siapa-siapa yang berhasil memanfaatkan lahannya untuk menenami kebaikan, maka dipersilahkan kepadanya untuk memetiknya. Bagi yang memenuhinya dengan keburukan dan kemaksiatan, maka ia pun diberikan kesempatan untuk memetiknya. Keduanya akan sama-sama merasakan apa yang telah ditanamnya di dunia, lewat surga dan neraka.
Meski azab dan siksa sewajarnya ada setelah berakhirnya kehidupan manusia, tetapi tersebab besarnya dosa, Allah pun membuka pintu azab yang bisa saja disegerakan di dunia. Naudzubillah, sungguh betapa azab Allah teramat pedihnya.
1) Tamak di dunia.
Tidak jarang manusia yang terlalu sibuk pada dunianya. Pikirannya melulu soal harta dan tahtanya. Habis waktu, tenaga dan hidupnya hanya untuk tujuan sesaatnya. Hampir tidak pernah ia memikirkan masa depan sejatinya. Akhirat sungguh jauh dari upayanya untuk menyiapkan diri. Bila tentang dunia ia tanpa jeda berusaha. Tapi bila untuk Rabbnya, sungguh berhitung luar biasa. Jika untuk yang Maha Menciptakan saja kita enggan mendahulukan, maka Allah pun dapat dengan mudahnya mengabaikan.
Sebagaimana sebuah peringatan yang jelas tertuang dalam sebuah hadist riwayat Imam Tirmidzi, “Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya, maka Allah akan jadikan kekayaan ada dalam hatinya, Allah himpun kekuatannya, dan dunia akan menghampirinya, sedang ia tidak menginginkannya, dan (sebaliknya) barangsiapa menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah jadikan kefakiran ada di depan matanya, Allah cerai beraikan urusannya dan dunia tidak menghampirinya kecuali apa yang sudah Allah takdirkan untuknya.
2) Dzalim dan durhaka pada kedua orang tua.
Dua orang yang teramat mulianya di sisi Allah ini bisa menjadi dua perkara bagi seorang manusia, pahala atau dosa, surga atau neraka. Salah satu keistimewaannya ialah bahwa ridha Allah terletak pada keduanya, begitu pula murka Allah yang terletak pada murka keduanya. Sebagai seorang anak yang lahir dari perjuangan tak terkira seorang ibu, sewajibnya kita senantiasa menjaga perilaku baik terhadapnya. Sudah seharusnya kita senantiasa menjaga tutur kata dan perbuatan agar tidak sedikit pun berbekas luka di hati keduanya. Hindari berbuat dzalim pada ibu dan ayah kita.
Betapa Allah dan Rasulnya saja memuliakannya, lantas itulah mengapa Allah mengancam anak-anak yang durhaka pada kedua orang tuanya dengan ancaman yang tidak biasa. Berkata “ah” saja dilarang oleh baginda Rasulullah, apalagi yang jauh lebih buruk dari itu.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Hakim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Ada dua pintu (amalan) yang disegerakan balasannya di dunia; kedzoliman dan durhaka (pada orang tua).”
3) Memutus silaturahim.
Hubungan antar sesama manusia tidak kalah penting dengan hubungan seorang manusia dengan Rabbnya. Tersebab itulah, perintah untuk menyambung silaturahim berkali-kali di ulang dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah.
Dalam sebuah hadist Rasulullah mengingatkan, “Tidaklah sebuah dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya di dunia dan juga disimpan di akhirat dibandingkan dosa memutuskan silaturrahim, khianat, dan juga berdusta, dan sesungguhnya amalan ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah menyambung silaturrahim, sesungguhnya dengan silaturrahim keluarga akan bahagia, harta akan melimpah dan jumlah keluarga akan bertambah, jika mereka saling menyambung tali silaturrahim.” []
Sunday, 3 December 2017
Shaf Shalat dan Persatuan
Abu Bakar mengirim surat kepada para pemimpin pasukan di Syam untuk menggabungkan pasukan-pasukan yang terpencar untuk menghadapi pasukan Romawi Timur yang berjumlah besar. Akhirnya, Abu Ubaidah bin al Jarrah, Amr bin al Ash, Yazid bin Abu Sufyan, dan Syurahbil bin Hasanah membawa pasukan mereka berkumpul di Yarmuk.
Ketika pasukan kaum Muslimin bersatu, situasi stagnan. Romawi Timur dan kaum Muslimin sudah berhadap-hadapan, tapi selama dua bulan tidak ada yang menginisiasi pertempuran dari kedua pihak. Abu Bakar mengirim surat ke Khalid bin Walid di Irak untuk datang ke Yarmuk. Sesampainya di Yarmuk, para panglima pasukan sepakat mengangkat Khalid sebagai field army general, komandan umum pasukan. Atas izin dan karunia Allah, kaum Muslimin kemudian mengalahkan Bizantium dengan telak.
Persatuan adalah sumber kekuatan, lalu kemenangan. Menjalin persatuan membutuhkan figur pemimpin yang cakap lahir dan batin. Abu Bakar menyeru pada persatuan kepada para jenderalnya di Syam, sedangkan Khalid menguatkan persatuan itu dengan memimpin mereka. Tidak ada yang meragukan kualitas Khalid dalam memimpin peperangan. Ia menuai banyak sukses di Irak.
Salah satu jalan menuju persatuan adalah merapatkan shaf shalat. Dengannya, hati kaum Muslimin dapat bersatu. Dari Abu Masud al Badri, ia berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallambiasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai shalat, seraya beliau bersabda:Luruskan shafmu dan janganlah kamu berantakan dalam shaf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih. (Shahih: Muslim no 432).
Lurus dan rapat, selain sebab kesempurnaan shalat, juga adalah upaya nyata yang dapat kaum Muslimin lakukan setiap hari sejak senja hingga malam menjelang. Perselisihan bukan datang dari perbedaan warna kulit, bahasa, budaya, atau nasab, melainkan dari dalam hati. Apabila hati-hati itu bersatu, seluruh anggota tubuh mengikutinya. Sebab, hati laksana raja bagi tubuh.
Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung). (HR Bukhari dan Muslim).
Meluruskan dan merapatkan shaf juga akan saling mendekatkan roh-roh orang beriman. Jika saling mengenal maka mereka akan saling mencintai.
"Roh-roh bagaikan tentara yang tersusun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling mengingkari maka akan berpisah."(HR Bukhari dan Muslim).
Shalat berjamaah, memperhatikan shaf-shaf shalat, dan tidak mendahului gerakan pemimpin (imam) adalah di antara tips untuk menegakkan persatuan yang berasal dari sunah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.Allahu Alam.
Sumber : Hikmah, Republika.co.id
Thursday, 30 November 2017
Ketika Malaikat Maut Mendatangi Orang Dzalim
DALAM sebuah riwayat, Imam Ghazali pernah menceritakan tentang keinginan Nabi Ibrahim AS yang penasaran akan wajah malaikat maut ketika mencabut nyawa orang yang dzalim. Dia memohon kepada Allah SWT untuk diperkenankan melihat bagaimana paras malaikat pencabut nyawa. Keinginan beliaupun dikabulkan oleh Allah SWT.
Diperlihatkanlah sosok pria dengan tubuh yang sangat besar, berkulit hitam legam. Sosok yang sangat menakutkan, rambutnya berdiri seperti lidi dan tajam, berbau busuk, memiliki dua mata satu di depan dan yang satu di belakang. Ia mengenakan pakaian serba hitam, dari mulutnya keluar jilatan api yang berkobar-kobar.
Seketika Nabi Ibrahim AS jatuh pingsan, setelah kembali sadar beliau merenung, betapa Allah SWT menunjukkan kuasanya untuk memberi pelajaran bagi setiap manusia untuk tunduk pada-Nya.
Lebih lanjut Imam Ghazali menuturkan, di akhir sakaratul maut, manusia akan diperlihatkan wajah malaikat pencatat Amal. Kepada orang dzalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan keji, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan buruk, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan buruk. Semoga Allah SWT tidak memberimu balasan yang baik!”
Siapa yang takkan bergetar hatinya ketika mendengar malaikat berbicara serta mengatakan dengan suara yang lantang dan Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang dzalim menjelang sakaratul mautnya.
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut,sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (seraya berkata): ‘keluarkan nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah SWT (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am:93).
Seketika Nabi Ibrahim AS jatuh pingsan, setelah kembali sadar beliau merenung, betapa Allah SWT menunjukkan kuasanya untuk memberi pelajaran bagi setiap manusia untuk tunduk pada-Nya.
Lebih lanjut Imam Ghazali menuturkan, di akhir sakaratul maut, manusia akan diperlihatkan wajah malaikat pencatat Amal. Kepada orang dzalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir ke tengah-tengah perbuatan keji, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan buruk, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan buruk. Semoga Allah SWT tidak memberimu balasan yang baik!”
Siapa yang takkan bergetar hatinya ketika mendengar malaikat berbicara serta mengatakan dengan suara yang lantang dan Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa malaikat akan memberi kabar buruk kepada orang dzalim menjelang sakaratul mautnya.
“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut,sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (seraya berkata): ‘keluarkan nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah SWT (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am:93).
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang yang dzalim di neraka, “Wahai musuh Allah SWT itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka.”
Orang-orang dzalim ketika mereka menghadapi kematian, ruhnya akan keluar dengan susah payah. Mereka benar-benar tersiksa dengan keadaan itu. Mungkin pernah kita saksikan kematian beberapa orang disekitar dengan proses yang begitu sulit dan menegangkan atau mungkin amat menakutkan.
Betapa kepedihan yang teramat sangat itu dirasakan oleh mereka yang enggan mempercayai akan adanya akhirat, enggan mengakui kuasa Allah Yang Maha Esa.
Hingga pada suatu masa, nyawa yang melekat dalam raga ini akan di kembalikan kepada pemiliknya. Di saat itulah, penyesalan demi penyeselan memenuhi ruang jiwa, tiada daya upaya yang mampu mereka lakukan kecuali terus merintih, memohon agar nyawa tak berpisah dengan raga, memohon agar Allah sudi memberi sedikit saja waktu untuk memperbaiki tingkah laku serta bertaubat sepenuhnya atas segala perbuatan buruk selama ini.
Namun, sekali lagi tiada seorangpun yang mampu menghalangi ataupun menunda keputusan Illahi Rabbi, percuma saja, semua sia-sia.
Allah berfirman, “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Rabbi kembalikan aku ke dunia. Agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan merekaada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100).
Membayangkannya saja air mata ini tak sanggup lagi bertahan, ketakutan menyeruak keseluruh tubuh, namun kembali, ucapan itu hanya akan didengar oleh mereka yang selama hidupnya tiada henti melakukan kedzoliman terhadap orang lain ataupun diri sendiri. Ingatlah! kala tangan bergerak diluar porsi fungsinya, ada malaikat yang mencatat. Kala mata mulai memandang kearah yang membuat hati berkata dan berpikir buruk, ada malaikat yang kan menggerakkan jemarinya menulis sedetail-detailnya pikiranmu. Kala hati berniat melangkahkan kaki ketempat yang tidak Allah Swt senangi, ada malaikat yang tak pernah tidur melihat tiap gerak gerikmu.
Maka, jangan kau tanya bagimana rasa sakit yang dialami oleh orang yang pernah mengalami mati (mati suri), sudah jelas sakit yang mereka rasakan adalah sakit yang tak pernah kau temui selama di dunia.
Orang yang tertancap pedang saja masih sanggup berteriak,namun tidak kala matamu telah bertemu dengan malaikat maut. Jangankan berteriak, kerongkongan ini serasa kering seketika tanpa diminta, organ tubuh ini serasa berhenti, meski kita masih menginginkan ia bersemi damai dalam raga ini. Bahkan akal sekalipun telah terhenti dan tertutupi karena merasakan sakit sakaratul maut yang luar biasa. Kalaupun masih tersisa kekuatan, itu di saat ruh dicabut dan diangkat. Namun, saat itu, warna tubuh sudah berubah dan rasa sakit sudah menyerang ke seluruh anggota tubuh. Hingga akhirnya bagian hitam matanya naik sampai menyentuh kelopak mata, sementara lidah tertarik ke dalam hingga pangkalnya dan jari jemari juga menjadi kaku.
Tak lagi sanggup membayangkan rasa sakit, di kala urat-urat dicabut satu persatu dari tubuh. Mulanya kedua kaki menjadi dingin, lalu kedua betisnya, kemudian kedua pahanya, dan seterusnya. Saat itulah pandangan terhadap dunia yang fana ini perlahan mulai sirna, dan tertutuplah sudah pintu taubat yang selama ini jarang kita masuki. Tinggallah penyesalan dan kekecewaan yang mendampingi rasa sakit yang tiada henti hingga hari kiamat nanti.
Sebuah hadist yang disampaikan lewat sahabatnya Abu Hurairah, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. Al-Tirmidzi).
Setiap manusia yang jauh terlena dengan keindahan dunia, selalu menyesal di kala nyawa sudah di ujung tanduk. Mereka tak pernah menyadari ataupun mengingat bahwa mati akan datang tanpa menunggu kita siap. Tak peduli dengan iman yang lekat ataupun yang tak taat. KeputusanNya jelas nyata tak dapat di rundingkan layaknya kau berunding saham dengan klienmu di dunia.
Jangan menunda waktu untuk hijrah memperbaiki diri, segerakan. Ingat! Mati tak menunggu usia tua, tak menunggu kau kaya, tak pula menunggu amalmu sempurna. []
Referensi: Saat Maut Menjemputku, penulis: Andi Farouq bin Abbas Hasana
Tuesday, 7 November 2017
Kebodohan Salah Satu Pintu Setan
Allah Ta'ala, berfirman:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمٰلًا
"Katakanlah (Muhammad), Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" (QS. Al-Kahf 18: Ayat 103)
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
"(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 104)
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة
“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”. (HR. Al-Hakim)
Pintu masuknya setan itu banyak, namun kebodohan adalah sumber dari pintu-pintu masuknya setan. Dari kebodohan itulah semua pintu terbuka bagi setan untuk menggoda, mengganggu, dan bahkan menjadi teman dalam berbagai kemaksiatan, sementara orang yang bodoh tidak menyadarinya.
Pintu masuk setan yang terbesar adalah al-Jahl (kebodohan). Dari pintu inilah setan menguasai sebagian besar manusia, hingga mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta'ala dan sebaliknya menghalalkan apa yang diharamkanNya, serta beribadah kepada Allah Ta'ala dengan kebid`ahan-kebid`ahan.
Ibnul Jauzy berkata, "Ketahuilah bahwa pintu terbesar bagi iblis untuk masuk menggoda manusia adalah al-Jahl (kebodohan). Dengan penuh rasa aman dia masuk dari pintu tersebut untuk menggoda orang-orang bodoh. Sedangkan terhadap orang yang berilmu, iblis tidaklah masuk menggodanya kecuali dengan mencuri-curi kesempatan saat lengah. Sesungguhnya iblis telah menipu sebagian besar ahli ibadah karena sedikitnya ilmu mereka. Karena mayoritas mereka sibuk beribadah, namun tidaklah didasari dengan ilmu."
Abdullah Ibn Mubarak menuturkan, “Kebodohan adalah kematian sebelum kematian yang sebenarnya sebelum kuburan. Jasad mereka telah menjadi kuburan. Orang tanpa ilmu laksana mayat sebelum berbangkit, ia tidak akan dibangkitkan”
Abul Hasan al Mawardi berkata “Barangkali, ada orang yang enggan menuntut ilmu karena usianya sudah lanjut. Atau merasa malu untuk menuntutnya ketika sudah tua karena pada masa mudanya ia telah menyia-nyiakannya”
Akhirnya, ia rela menerima kebodohan sebagai ciri khasnya dan lebih memilih daripada harus belajar dan mengaji. Ini merupakan tipu daya kebodohan dan kemalasan. Sebab, jika ilmu menjadi sebuah keutamaan, orang-orang berusia lanjut seharusnya tetap mencintainya, karena memulai suatu kebaikan merupakan kebaikan. Menjadi tua yang mau belajar jauh lebih baik daripada menjadi tua yang bodoh” (Adabud Dunya wad Din. Hal 26)
Oleh karena itu kedudukan orang berilmu lebih ditakuti setan daripada orang yang ahli ibadah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ
“Satu orang alim ulama lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Dari itu semua, kita mengetahui betapa penting membekali diri dengan ilmu syar’i. Karena ia merupakan unsur paling utama untuk menolak setan. Setiap bertambah ilmu yang bermanfaat pada seorang hamba, yang dengan itu menjadikan dirinya takut dan bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka akan bertambah keselamatan dirinya dari bisikan dan jeratan setan. Dan hanya Allahlah tempat memohon pertolongan.
Wallahu a'lam
Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia
Komunitas Akhlaq Mulia
SuaraIslam.com
Subscribe to:
Posts (Atom)