Tuesday, 17 October 2017

Orang Ini Terlihat Baik di Dunia, Tetapi Kelak Akan Disiksa di Neraka

 Betapa pandangan manusia hanya sebatas jarak antara mata dengan objek yang dilihatnya. Teramat dhaifnya kita dalam melihat dan menilai sesuatu. Menerka baik atau buruknya suatu perkara hanya tersebab bentuk fisiknya. Maka penilaian siapakah yang lebih hakiki? Ialah Allah yang Maha Adil menilai setiap jengkal amalan manusia. Menimbang setiap dosa dan kesalahan. Mengadili apa-apa yang telah dikerjakan di dunia.

Bila kebaikan sejati hanya bersumber dari Allah, maka mengapa sebagian besar manusia masih betapa sibuknya mencari kebaikan di mata sesamanya? Mengerjakan amalan-amalan hanya dengan tujuan mencari sanjungan dan pujian. Bersikap seolah shalih meski sesungguhnya salah. Bertopeng kebikan untuk menutupi keburukan-keburukan.

Maka Rasulullah memberikan peringatan dengan sebuah gambaran, bahwa kelak di akhirat ada sebagian manusia yang ketika di dunia dikenal sebagai seorang yang baik, tetapi di akhirat akan disiksa di api neraka. Dalam sebuah hadist riwayat Imam Muslim diterangkan, Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” 

Bukankah sabda baginda itu menjelma menjadi sindiran bagi kita semua. Bahwa apakah yang kita cari di dunia ini sudah sesuai dengan yang semestinya? Bahwa apakah tiap-tiap amalan yang kita kerjakan sudah semata-mata tertuju pada berharap ridha Allah. Atau masih terselip banyak hasrat untuk mencari penilaian baik dari sesama manusia?

Pada riwayat yang berbeda, Imam Bukhari menegaskan dalam riwayatnya. Sebuah hadist dari Abu’ Abdirahman Abdullah bin Mas’ud “…..Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.”

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surga yang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksud dengan ‘tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta’ adalah begitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.”

Semakin kita terpana menyadari, betapa nilai kebaikan di mata manusia belum berarti apa-apa di sisi Allah. Bahwa hakikat kehidupan ialah semata-mata mencari kebaikan di sisi Sang Maha Baik. Bahwa terlihat miskin di dunia tiada masalah, yang terpenting ia menjadi kaya raya di akhirat. Bahwa terlihat lusuh di dunia tiada mengapa, yang terpenting ia menjadi suci dan bersih di dalam surga.

Seketika manusia setuju, bahwa baik menurut pandangan kita ialah seseorang yang hidup dengan kemewahan hartanya, tinggi pangkat dan kedudukannya. Lahir dari keluarga berada, beradat, berlembaga. Turunan darah biru, ningrat dan moderat. Meski di balik itu semua tiada sejengkal pun kakinya di langkahkan untuk mengerjakan perintah-Nya. Ingkar ia pada Rabb-Nya. Hidup dengan sesukanya, pada perintah ia abai, pada larangan ia lalai.

Maka apakah yang demikian itu baik pula di sisi Allah? Tidak. Bukankah iman dan taqwa seseorang letaknya di dalam hati. Tiada terpengaruh oleh berapa banyak materi yang dimiliki. Berapa tinggi jabatan di duduki. Terbuka amat besar peluang si miskin lebih tinggi derajat kebaikannya di sisi Allah dari si orang kaya. Mungkin justeru dengan ujian dunia yang berat menimpanya, kelak telah Allah siapkan rumah indah di surga-Nya.

Tiada manusia mampu menyangka, siapa di antaranya yang lebih bertaqwa. Hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati. Maka berhati-hatilah, jangan sampai kiranya kita termasuk ke dalam orang-orang yang baik di hadapan manusia, tetapi sebaliknya menurut pandangan Allah. Maka pandai-pandailah menakar pandangan manusia. Bila ia berisi nasihat kebaikan, tiada ragu bagi kita untuk mengambilnya. Namun bila adanya hanya menjauhkan kita dari mengabdi pada Allah, sudah wajib bagi kita untuk meninggalkannya.

Kebaikan di mata manusia hanya racun berselimut madu. Pujian hanya bumbu yang bila tidak baik menggunakannya, justeru akan merusak cita rasa. Maka betapa pandangan manusia fana – hakikinya hanya pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sumber :Hijaz.id

Wednesday, 4 October 2017

Inilah 6 Kesalahan dalam Shalat yang Sering Dilakukan

Hal-hal kecil yang dilakukan di dalam shalat, seringkali merupakan kesalahan besar yang mempengaruhi pahala dalam melakukan shalat. Apa saja yang termasuk kesalahan dalam shalat?


Berikut ulasannya.



Ada banyak hal yang terlihat sebagai hal kecil namun berpengaruh besar terhadap pahala shalat seseorang.


Tidak Tuma’ninah


Tuma’ninah adalah posisi tubuh tenang ketika melakukan gerakan rukun tertentu. Ukuran tenangnya adalah mencukupi untuk membaca satu kali doa dalam rukun tersebut. Misalnya, tuma’ninah ketika ruku’, artinya posisi tubuh tenang setelah ruku’ sempurna. Kemudian baru membaca doa ruku’, minimal sekali. 



Dalam sebuah riwayat hadits diceritakan, suatu ketika ada seseorang yang masuk masjid kemudian shalat dua rakaat. Seusai shalat, orang ini menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu berada di masjid.

Namun Nabi menyuruh orang ini untuk mengulangi shalatnya. Setelah diulangi, orang ini balik lagi, dan disuruh mengulangi lagi shalatnya. Ini berlangsung sampai 3 kali. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadanya cara shalat yang benar. Ternyata masalah utama yang menyebabkan shalatnya dinilai batal adalah kareka dia tidak tuma’ninah. Dia bergerak ruku’ dan sujud terlalu cepat. (HR. Bukhari & Muslim).

Was-was Ketika Takbiratul Ihram

Kesalahan kedua ini banyak dialami oleh mereka yang berkeyakinan harus berbarengan persis antara niat di hati dan ucapan takbiratul ihram. Jika ada sedikit yang mengganggu dalam proses niatnya, dia langsung membatalkan diri dan mengulangi takbiratul ihram.

Perbuatan ini telah diperingatkan para ulama. Berikut para ulama yang memberikan peringatan akan hal ini, Ibnul Jauzi mengatakan, “Ada juga orang yang bertakbir kemudian dia batalkan takbirnya, bertakbir lagi, dia batalkan lagi, ketika imam mendekati ruku’, barulah orang yang terjangkiti was-was ini berhasil bertakbir, lalu mengejar ruku’ imam. Sungguh aneh, mengapa dia baru berhasil niat ketika itu! Semua ini terjadi karena tipuan iblis yang menggodanya agar dia kehilangan keutamaan takbiratul ihram bersama imam.” (Talbis Iblis, hlm. 169).

Kemudian, Imam Asy Syafi’i mengingatkan, “Was-was ketika niat shalat dan bersuci adalah bentuk kebodohan dengan syariat dan kurang akalnya.” (Al Qaulul Mubin fi Akhtha Mushallin, hlm. 93).

Untuk mengobati penyakit ini, yakinkan bahwa Anda sudah niat, tidak perlu diulangi, dan baca takbiratul ihram sekali. Inilah yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kamu ingin shalat, wudhulah dengan sempurna, lalu menghadaplah ke arah kiblat, dan bertakbirlah” (HR. Bukhari). Anda perhatikan, Rasulullah tidak mengajarkan bacaan apapun sebelum shalat dan beliau hanya mengajarkan takbir sekali.”

Ruku’ atau I’tidal Tidak Sempurna

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau pernah melihat ada orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud ketika shalat. Setelah selesai, ditegur oleh Hudzaifah, “Sudah berapa lama Anda shalat semacam ini?” Orang ini menjawab, “40 tahun”. Hudzaifah mengatakan, “Engkau tidak dihitung shalat selama 40 tahun (karena shalatnya batal-pen).” Lanjut Hudzaifah, “Jika kamu mati dan model shalatmu masih seperti ini, maka engkau mati bukan di atas fitrah (ajaran) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari).

Sedekap Miring

Shalat yang paling sempurna adalah shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang bersedekap dengan meletakkan kedua tangan tepat di atas jantungnya, atau di atas organ hatinya. Tidak ada satupun yang memberikan dalilnya. Mereka merasa, shalat dengan cara itu, hatinya atau jantungnya akan lebih tenang. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan bersedekap dengan cara demikian. Artinya, itu bukan metode agar shalat kita menjadi khusyu’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat seperti layaknya orang yang berkacak pinggang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat sambil ikhtishar. ” (HR. Bukhari).

Ikhtishar adalah meletakkan satu tangan di atas pinggang atau kedua tangan di atas kedua pinggang. (Sunan Turmudzi keterangan hadits no. 384). Sementara kita memahami, orang yang bersedekap miring, menyebabkan salah satu sikunya keluar jauh dari tubuhnya, layaknya orang yang berkacak pinggang.

Tidak Menempelkan Hidung Ketika Sujud

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar orang yang sujud benar-benar menempelkan hidungnya ke lantai. Beliau bersabda, “Allah tidak menerima shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungnya ke tanah, sebagaimana dia menempelkan dahinya ke tanah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, ‘Abdurrazzaq, dan dinilai shahih oleh Al Albani). Hadits ini menunjukkan menempelkan hidung ketika sujud hukumnya wajib.

Membuka Tangan Ketika Salam

Salam ke kanan, membuka tangan kanan, salam ke kiri dengan membuka tangan kiri. Kebiasaan ini pernah dilakukan sebagian sahabat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, ”Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengucapkan ”Assalamu’alaikum wa rahmatullah – Assalamu alaikum wa rahmatullah,” sambil berisyarat dengan kedua tangan ke samping masing-masing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ”Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti keledai yang suka lari? Kalian cukup letakkan tangan kalian di paha kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya.” (HR. Muslim).

Wednesday, 13 September 2017

Dakwah Sikut-sikutan, Setan Berjingkrakan

Dakwah sebenarnya adalah tugas mulia. Sampai-sampai Allah Ta’ala memuji dai.
{ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [فصلت: 33]
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?. [QS. Fussilat: 33]
Bila para dai maju bersama, kompak, rukun, membina Umat dengan ikhlas menyampaikan ajaran suci dari Allah Ta’ala yang dibawa Rasul-Nya, Muhammad Shllallahu ‘alaihi wa sallam, maka betapa bagusnya. Bagai bumi yang disirami air hujan yang berkah, menumbuhkan tanam-tanaman yang maslahat bagi kehidupan manusia, di samping menjadi pemandangan indah yang menyedapkan mata.
Umat Islam pun berduyun-duyun shalat berjamaah lima waktu ke masjid dan langgar atau surau (kini disebutnya mushalla). Lebih-lebih di bulan Ramadhan, maka seluruh masjid dan mushalla penuh dengan jamaah shalat. Dan di hari raya sangat tampak syiar Islam dengan takbir, Allahu Akbar menggema di mana-mana. Itulah di antara keberkahan dakwah.
Tiada tujuan ke surga yang mulus tanpa goda. Sedang Nabi Adam ‘alaihissalam dan istrinya, Hawa, pun digoda setan, hingga tergoda, dan akhirnya dikeluarkan dari surga. Sehingga, bapak manusia yang sudah di surga pun ketika kena goda setan maka dikeluarkan dari surga, kemudian bertobat, dan diterim tobatnya. Nah, para dai yang menunjuki manusia untuk menuju surga, meneruskan tugas para Ulama, yang para Ulama itu adalah pewaris para nabi, tentunya tidak luput dari goda juga.
Dakwah yang semula mulus-mulus saja, tahu-tahu bisa saja ada orang yang hasud, dengki pada si dai. Entah itu dari masyaakat umum, atau bahkan dari dai yang lain. Timbullah kegaduhan, ramai, saling sindir, saling cari pengaruh, dan seterusnya. Padahal, dai satu dengan dai yang lainnya di satu kampung atau satu desa, itu tadinya mondok (pesantrennya) sama, atau belajarnya sama. Sama-sama sebagai wong tradisional, wong doyan melakukan ini itu yang belum tentu dalilnya kuat, atau bahkan belum tentu gampang dicari dalilnya. Sudah sama-sama dilakukan, bahkan didakwahkan, tetapi ketika dicari di kitab-kitab yang shahih belum tentu ketemu. Mereka sesama dai tidak mempersoalkan amalan itu benar atau salah, ada dalilnya yang kuat atau tidak. Tidak jadi urusan penting dalam hal itu, di kalangan dai tradisional ini.
Meskipun tidak mempersoalkan amalan, tidak mempersoalkan dalil, bahkan amalannya pun sama antara dai satu dengan yang lainnya di kampung itu, namun ketika yang satu lebih tampak akan maju padahal dari segi usia lebih muda, padahal dari segi keturunan, harta dan aneka ragamnya lebih rendah, namun tampaknya makin terkemuka di masyarkat, maka timbullah rasa hasad iri dengki dari dai yang merasa lebih senior, lebih punya harta, dari keturunan lebih terhormat dan semacamnya. Mulailah terjadi konflik-konflik, hasutan, bahkan bisa pula fitnah.
Di saat gejala akan adanya kekisruhan itu, maka wadyabala setan penggoda, baik setan ketok(kelihatan) maupun setan tidak kelihatan mulai berkasak-kusuk. Mulai memanaslah suasana. Dapat kita bayangkan suasananya, sulit surutnya, tapi kemungkinan makin panasnya lebih mungkin.
Waktu tahun-tahun zaman aktifnya ayah saya di tahun sebelum 1960-an konflik sesama dai itu sudah menjadi rahasia umum, walau secara terang-terangan belum tentu tampak ada tengkar adu mulut. Tetapi masyarakat biasanya tahu, dai A itu musuhnya dai B, dan seterusnya. Padahal mereka sama-sama mondoknya tadinya bareng, di pondok pesantren tradisional, misalnya. 
Jebret..., begitu dai B tiba-tiba sakit keras kejang-kejang dan sebagainya, lalu meninggal, langsung dugaan bahwa itu kena santet pun tersebar, entah dari mana, dan siapa penyebarnya. Tidak jelas, tetapi kabar burung itupun hampir merata di kampung yang sedang ada peristiwa. 
Akibatnya fatal. Anak muda banyak yang takut, maka anak-anak muda jadi mlempem, takut, tidak ada gairah belajar agama. Karena kalau belajar agama, mengaji kitab dengan tekun, lalu pulang ke kampung dan bisa mengajari masyarakat untuk mengaji kitab, lalu punya murid-murid; maka bisa-bisa terancam hidupnya. Kalau ga’ mati muda ya sakit-sakitan yang sulit diobati. Ketakutan semacam ini menghantui anak-anak muda Islam di kampung itu. Takut kena santet, kalau sampai muncul sebagai tokoh agama di kampung itu. 
Satu-satunya jalan, ya minggat saja dari kampung itu. Bebas. Tidak akan ada yang merasa terganggu lagi, hingga kemunginan untuk disantet pun relatif berkurang. Karena, kalau toh jadi orang terkemuka, tidak berhadapan langsung dengan dedengkot kampung yang takut tersaingi. 
Nah, betapa mengenaskannya. Berdakwah itu merupakan tugas yang terpuji sebagaimana dalam ayat tersebut di atas, namun ketika dainya sudah kena goda setan, justru dakwah itu bisa-bisa dibalut dengan sarana santet. Yang dalam Islam santet itu merupakan jenis kekufuran, termasuk dosa terbesar. Kekufuran santet itu terdapat dalam Al-Qur’an QS 2: 102.
وَٱتَّبَعُواْ مَا تَتۡلُواْ ٱلشَّيَٰطِينُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَيۡمَٰنَۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيۡمَٰنُ وَلَٰكِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ وَمَآ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَيۡنِ بِبَابِلَ هَٰرُوتَ وَمَٰرُوتَۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ١٠٢ [سورة البقرة,١٠٢]
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. [Al Baqarah102]
*** 
Dai satu dengan lainnya dalam satu golongan, bahkan dari guru yang sama pun bisa cakar-cakaran, bahkan kemungkinan bisa santet-santetan. 
Masalah ini tentunya diketahui pula oleh musuh-musuh Islam yang mengintai-intai. Maka celah yang sangat rawan tapi sangat strategis untuk dimasuki oleh pengadu domba itu ketika dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam, sangat membahayakan. Bahkan celakanya, memang ada yang justru dipiara puluhan tahun oleh musuh Islam untuk kepentingan memech belah Umat Islam. Hanya saja persaingan jenis yang awal ini, sesama serekanan, segolongan, sepemahaman ini mengalami variasi-variasi  baru. 
Dalam perkembangannya, dai-dai dan pengikutnya yang lebih mementingkan obyekan dan berjilatan dengan pengorder dari kubu yang sejatinya berseberangan dengan Islam, mereka dengan lego lilo (suka rela) menjadi partner orang kafir, munafik, liberal, aliran sesat, dan musuh-musuh Islam lainnya. Sedang teman serekanan yang masih relatif meneruskan perjuangan sebagaimana semula justru dipojokkan, tidak diberi tempat untuk mengurusi golongan itu, dan diupayakan untuk dianggap sebagai yang tidak boleh mewakili suara golongan itu.
Kalau taktik yang dai kampung (dalam ilustrasi ini tadi) dikabarkan main santet (dan itu sulit dibuktikan, tapi jadi rahasia umum), maka cara baru yang bersekongkol dengan musuh-musuh Islam ini lebih canggih. Dengan aneka sarana dan dana, maka mereka bisa membekuk dan mengurangi pengaruh dari teman serekanan yang sejatinya meneruskan perjuangan lama namun diupayakan dikungkung itu. Sehingga muluslah pembelokan dari kumpulan orang-orang Muslim yang tadinya untuk memperjuangkan aspirasi Islam sesuai pemahaman dan pengamalan mereka, namun dibelokkan menjadi kendaraan yang bisa bergandengan tangan (baca ditunggangi) pihak-pihak yang sejatinya bisa menghancurkan kepentingan kelompok muslim itu sendiri.  
Misalnya, Syiah adalah jelas memusuhi Islam dan menyimpang dari Islam. Namun justru ditemani, bahkan dibela atau pura-pura tidak tahu akan bahayanya.. lalu serekanan yang memberikan petunjuk bahwa Syiah itu memusuhi Islam dan membahayakan; justru dilawan sendiri oleh kelompok yang sudah sering kongkalikong dengan orang kafir itu. 
Dalam menyingkirkan rekannya sendiri, kelompok dai yang kongkalikong dengan kafirin dan aliran sesat ataupun aktivis macam-macam yang bersebererangan dengan Islam itu gampang pula berputar haluan. Rekan mereka sendiri yang ditlikung itu, tempo-tempo justru bisa dipermainkan dengan canggihnya. Kepada rekannya yang ditlikung itu dibangkitkan lah semangatnya dalam melawan apa yang dianggapnya musuh, misalnya apa yangmereka sebut Wahabi. Sedang kepada rekanan kafirin, aliran sesat, dan aktivis-aktivis anti Islam lainnya diberi aba-aba untuk menghadapi rifalnya itu (yakni yang mereka sebut Wahabi) dengan dalih pemberantasan radikalisme, pengancam kebhinekaan dan entah slogan apa yang dituduhkan. Sehingga kelompok “sewaan” kafirin ini bisa membangkitkan tiga unsur: pertama kelompoknya sendiri, kedua rekannya sendiri yang biasanya ditlikung tapi diajak maju bersama karena yang dihadapi adalah Wahabi, dan unsur ketiga adalah Syiah, kafirin, dan musuh- musuh Islam lainnya. Sehingga jadilah seakan yang sejatinya hanya rival main tapi  telah dicap sebagai Wahabi dan bahkan kelompok radikal yang membahayakan ini itu, itu dijadikan sebagai sasaran, seakan dijadikan musuh bersama.
Akibatnya, sangat bertentangan dengan ayat yang memberi petunjuk bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya itu asyiddaau ‘alal kuffari ruhamaau bainahum. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang sesama Muslim. (lihat QS Al-Fath/48: 29). Namun jenis “sewaan” yang menggejala kini adalah sebaliknya: berkasih sayang terhadap kafirin, Syiah, aliran sesat, liberal, munafiqin, musuh-musuh Islam dan semacamnya; namun benci kepati-pati  terhadap orang Muslim yang konsisten istiqamah terhadap ajaran Nabi shallaahu ‘alihi wa sallam. Benar-benar terbalik.
Nah, dari warisan yang konon tadinya beredar kabar bahwa yang dilakukan ketika bersaing dengan rivalnya setradisi itu mengajukan jurus andalan berupa (konon disebut) santet, dan itu merupakan sikap raja tega (sangat tega sekali); kini ketegaan dan kesadisan itu dikemas sedemikian rupa. Dalih dan alasan yang dikemukakan seakan merupakan perjuangan memberantas bahaya, padahal itu hanya meneruskan warisan licik dan curang dalam menapaki kehidupan ini. 
Mau dibungkus serapi-rapinya pun, kejahatan itu tetap akan tercium. Maka jangan dianggap polah tingkah selama ini tidak diketahui oleh masyarakat umum. Bahkan mungkin masyarakat sudah sangat malu untuk melihat atau menceritakannya. 
Semoga saja para pelakunya masih punya malu, sehingga mau kembali ke jalan yang benar. 
Adapun bila sudah tidak punya malu lagi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah memberikan kata-kata sindiran telak yang sangat mengena:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
 
“Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari, no. 3483)
Wallahu a’lam bisshawaab
Hartono Ahmad Jaiz
Wartawan senior, Penulis buku-buku Keislaman

Friday, 25 August 2017

Inilah Amalan Yang Lebih Utama Dari Puasa, Shalat Dan Sedekah

Dalam suatu riwayat, salah satu sahabat Rasul yang terbaik yaitu Abu Darda r.a bertanya kepada sahabat-sahabatnya yang lain dengan kalimat, “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan sedekah dan menjalankan ibadah puasa?”
Para sahabat pada jaman Rasul dan sesudahnya memang sangat antusias jika ada sebuah nasehat yang menyangkut pahala akhirat. Beda dengan jaman sekarang yang sekedar untuk tahu saja tidak tergerak hatinya. Wahai kaum muslim ! Adakah diantara kalian yang ingin mengetahui untuk selanjutnya bisa mengamalkan nasehat dari Abu Darda tersebut?

Bukan merupakan rahasia jika bersedekah merupakan sebuah ibadah yang sangat tinggi pahalanya di sisi Allah. Dengan bersedekah, maka Allah melipatgandakan rezeki kita hingga 700 kali lipat. Bersedekah juga menjadi jalan keselamatan bagi seorang manusia dari panasnya api neraka. Kita juga tahu bahwa dengan bersedekah, maka Allah akan menyelamatkan kita dari mara bahaya dan mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita.


Sementara ibadah puasa atau shaum entah itu puasa wajib ataupun sunat merupakan ibadah yang bernilai setengah kesabaran. Banyak keterangan yang menyebutkan bahwa dengan berpuasa akan menjadi salah satu jalan syafaat bagi penggiatnya di hari kiamat nanti. Berpuasa juga menjadi sarana untuk terhindar dari dosa, maksiat dan siksa api neraka. Lalu berpuasa juga menjadikan tubuh menjadi sehat luar dan dalam.

Dan tahukah engkau wahai saudaraku, Bahwa ternyata ada satu amalan yang lebih utama dibandingkan dengan kedua amalan ibadah yang tinggi pahalanya tersebut.

Seperti apakah ibadah atau perbuatan yang lebih baik dari bersedekah dan berpuasa yang dimaksud?

Abu Darda kemudian melanjutkan nasehatnya,

“Yaitu mendamaikan diantara yang tengah berselisih karena kebencian merupakan penghalang darti mendapatkan pahala.”

Perkataan ataupun nasehat yang disampaikan oleh sahabat Abu Darda bukanlah sebuah perkataan yang kontan keluar dari lisan Abu Darda, namun merupakan kutipan dari Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dimana Rasulullah SAW bersabda,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu amalan yang lebih utama dari derajat mereka yang berpuasa, shalat dan bersedekah?”

Para sahabat pun menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”

Kemudian Rasul melanjutkan perkataannya,

(ialah) mendamaikan seseorang yang berselisih. Karena sesungguhnya kerusakan dari perselisihan adalah terhalanginya seseorang dari mendapatkan pahala.”

Mengomentari hadits diatas, Dr Muhammad Ali Hasyimi menjelaskan bahwa kebencian dapat menghapus segala amal kebaikan, dijauhkannya pahala dan lenyapnya kebaikan-kebaikan.

Subhanallah.... semoga kita semua bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari entah itu di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di lingkungan pekerjaan dengan segala kemampuan terbaik yang dimiliki.

Wallahu A'lam


Sumber : KabarMakkah.com

Monday, 14 August 2017

Tidaklah Beriman Seseorang Jika Tetangganya Tak Merasa Aman dari Gangguannya

Sobat , sebagai makhluk sosial tentunya kita harus bisa hidup berdampingan dengan orang lain. Saling membangun komunikasi dan belajar menciptakan hubungan yang baik serta harmonis. 

Bukan hal mudah memang, apalagi setiap orang memiliki pemikiran dan karakter yang berbeda. Untuk itu, harus ada sikap saling memahami antata satu orang dengan yang lainnya. 

Bukan tanpa alasan ya Sob, sebab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetanggalah orang yang paling memungkinkan untuk kita mintai pertolongan pertama. 

Di dalam Islam sendiri, menjaga hubungan baik dengan tetangga merupakan salah satu hal yang penting. Bahkan, jika masih ada tetangga kita yang tersakiti entah karena ucapan dan perbuatan yang kita lakukan, maka kita tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan orang yang beriman. 

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman." Ditanyakan kepada beliau; "Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya." (HR Bukhari No 557)

Pastinya kita semua maunya ingin termasuk menjadi orang yang beriman dong Sob? Oleh makanya, nggak ada salahnya nih kita saling memberikan hadiah atau sesuatu yang bermanfaatlah ya kepada tetangga-tetangga kita. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai para wanita muslimah, janganlah antara tetangga yang satu dengan yang lainnya saling meremehkan walaupun hanya dengan memberi kaki kambing. (HR Bukhari No 5558)

Wallahua'lam bishowab. 

Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik ya Sob.


Sunday, 6 August 2017

Apa Ancaman Allah Kepada Orang yang Dzolim?

Salah satu tanda akhir zaman adalah kejahatan yang semakin merata dan kedzoliman yang semakin merajalela. Hati manusia seakan tak memiliki penghalang untuk menindas sesama. Apa yang telah terjadi? Apa yang sebenarnya dicari?
Tidak semua orang berniat untuk mendzolimi atau menyakiti seseorang, tapi mereka yang menjadi korban selalu merasakan. Lalu, apa ancaman Al-Qur’an kepada orang-orang yang dzolim?
Apa ancaman Allah kepada mereka?

– Membencinya –

وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ -٥٧-
“Dan Allah tidak menyukai orang zalim.” (Ali Imran 57, 140 dan Asy-Syura 40)
 

– Memusuhinya –

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ -١٨-
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.” (Huud 18)
 

– Ancaman Neraka –

احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ -٢٢-
(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah.” (Ash-Shaffat 22)
وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَباً -١٥-
“Dan adapun yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahannam.” (Al-Jinn 15)
 

– Mengharamkan Syafaat Bagi Mereka –

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ -١٨-
“Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya).” (Ghofir 18)
 

– Ancaman dengan Siksaan di Dunia –

 
فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا -٥٢-
“Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka.” (An-Naml 52)
وَسَكَنتُمْ فِي مَسَـاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ -٤٥-
“Dan kamu telah tinggal di tempat orang yang menzalimi diri sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah Berbuat terhadap mereka.” (Ibrahim 45)
 

– Sulitnya Sakaratul Maut –

 
وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلآئِكَةُ بَاسِطُواْ أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُواْ أَنفُسَكُمُ -٩٣-
“(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.” (Al-An’am 93)
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً -٢٧-
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (Al-Furqon 27)
 

– Allah Tidak Akan Melupakan Perbuatan Mereka Walau Tidak Langsung Menurunkan Siksaan –

 
وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ -٤٢-
“Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah Menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.” (Ibrahim 42)
  Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang dzolim.
sumber : khazanahlquran.com

Friday, 4 August 2017

Adakah Shalat Sunnah Qabliyah Jumat?

Di antara sunnah ketika menghadiri shalat Jumat adalah memperbanyak shalat sunnah. Selain shalat tahiyatul masjid, kita juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat sambil menunggu datangnya Imam atau Khatib. Namun sebagian kalangan menganggap shalat ini adalah shalat sunnah rawatib sebelum Jumat, layaknya shalat sunnah waktu Dhuhur. Lalu bernarkah demikian? Berikut kami kutib pendapat para ulama dalam menjawab persoalan ini.
Dalam kitab Al-Jumu’ah; Âdâb Wa Ahkâm, Syaikh Abu Al-Mundzir As-Sa’idi berkata; Berkenaan dengan shalat Sunah sebelum (qabliyah) shalat Jumat, shalat tersebut tidak ada menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat di kalangan para ulama, yaitu pendapat Imam Malik, Ahmad dalam pendapat yang masyhur, dan salah satu pendapat di kalangan ulama mazhab Syafi’i. Akan tetapi, yang disunahkan ialah melakukan perkara-perkara sunah yang bersifat umum.
Yang demikian ini selaras dengan hadits Salman Al-Farisi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
”Tidaklah seorang muslim mandi pada hari Jumat, bersuci dengan sebaik-baiknya, mengoleskan minyak, atau memakai wangi-wangian yang ada di rumahnya. Lalu berangkat menuju masjid dan ia tidak menceraiberaikan hubungan baik dua orang saudaranya. Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya, dan ketika imam membacakan khutbah ia diam, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya antara satu Jumat ke Jumat berikutnya’.” (HR. Bukhari)

Yang dijadikan dalil dari hadits ini ialah lafal, “Kemudian ia melaksanakan shalat semampunya.” Maknanya adalah shalat sunnah secara mutlak. Artinya shalat sunnah yang dikerjakan semampu mungkin dengan bilangan yang tidak terbatas.
Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa contoh yang dipraktekkan oleh ulama salaf. Sebuah riwayat dari Naafi’ menyebutkan bahwa Dahulu Ibnu Umar mengerjakan shalat sunnah sebelum Jum’at sebanyak 12 raka’at.” (Fathul Bari, 8/329).
Ibnu Hajar Al-Asqolani berkata:
 وأما سنة الجمعة التي قبلها فلم يثبت فيها شيء
“Adapun shalat sunnah rawatib sebelum Jum’at, maka tidak ada hadits shahih yang mendukungnya.” (Fathul Bari, 2/426)
Pendapat ini dikuatkan juga oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad,
وكان إذا فرغ بلال من الأذان أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة ، ولم يقم أحد يركع ركعتين البتة ، ولم يكن الأذان إلا واحدا ، وهذا يدل على أن الجمعة كالعيد لا سنة لها قبلها ، وهذا أصح قولي العلماء ، وعليه تدل السنة ، فإن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخرج من بيته ، فإذا رقي المنبر أخذ بلال في أذان الجمعة ، فإذا أكمله أخذ النبي صلى الله عليه وسلم في الخطبة من غير فصل ، وهذا كان رأي عين ، فمتى كانوا يصلون السنة ؟
“Jika Bilal telah mengumandangkan adzan Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung berkhutbah dan tidak ada seorang pun berdiri melaksanakan shalat dua raka’at kala itu. (Di masa beliau), adzan Jum’at hanya dikumandangkan sekali. Ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu seperti Shalat ‘Ied yaitu sama-sama tidak ada shalat sunnah qabliyah sebelumnya. Inilah di antara pendapat ulama yang lebih tepat dan inilah yang didukung hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu pernah keluar dari rumah beliau, lalu beliau langsung naik mimbar dan Bilal pun mengumandangkan adzan. Jika adzan telah selesai berkumandang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkhutbah dan tidak ada selang waktu (untuk shalat sunnah kala itu). Inilah yang disaksikan di masa beliau. Lantas kapan waktu melaksanakan shalat sunnah (qobliyah Jumat tersebut)?”(Zaadul Ma’ad, 1/422)

Jadi, menurut pendapat jumhur, memperbanyak shalat sunnah yang dimaksud adalah sunnah secara mutlak, bukan sunnah rawatib qabliyah Jumat. Jumlahnya pun tidak terbatas dua rakaat, tapi boleh dilakukan semampu mungkin selagi khatib belum naik ke atas mimbar. Wallahu a’lam bis shawab!

kiblat.net